Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad
Last Updated : 2025-10-29 Read more