Budapest menyambut mereka dengan hiruk pikuk dan cahaya musim gugur yang dingin. Kota itu indah, tetapi bagi Kania, setiap sudut terasa seperti perangkap, dan setiap wajah adalah musuh potensial.Mereka keluar dari stasiun kereta api, Arsa segera menyatu dengan kerumunan. Kania, yang kini menjadi 'Bayangan', harus berjalan rapat di sampingnya. Arsa memegang pergelangan tangan Kania, bukan di saku, tetapi di tempat yang terlihat: sebuah penegasan kepemilikan di mata publik."Kau tidak boleh berjarak sejengkal pun. Jika kau melihat sesuatu, kau hanya melihatku. Kau tidak bicara. Kau adalah bayanganku," bisik Arsa, tanpa menggerakkan bibirnya.Kania mengangguk. Ia merasakan tension mengalir dari cengkeraman Arsa ke seluruh tubuhnya. Ini adalah kepatuhan yang paling sulit, karena ia harus secara aktif mengendalikan insting alaminya untuk melihat sekeliling.Arsa membawa mereka ke sisi Buda, menjauhi area Pest yang ramai. Mereka harus menuju sebuah hotel kecil yang Arsa yakini aman.Saat m
Last Updated : 2025-10-30 Read more