Begitu Alya menelepon, Jefri mengangkat secepat kilat."Bu Alya," panggil Jefri.Alya bertanya, "Kamu benar-benar sudah pergi?""Pak Emran memintaku pulang," jawab Jefri."Kamu biarkan dia begitu saja?" tanya Alya.Jefri menjawab dengan tidak berdaya, "Bu Alya, kamu tahu karakter Pak Emran. Apalagi dia juga minum alkohol, makin sulit dibujuk."Alya mengusap dahinya, kemudian bertanya lagi, "Apa lukanya parah?""Luka cambukan sebelumnya belum sepenuhnya sembuh. Malam ini meskipun dia memakai jas, asam sulfat tetap sedikit meresap ke kulit, jadi luka lama ditambah luka baru. Dokter bilang harus benar-benar dirawat, kalau sampai infeksi, risikonya besar," jelas Jefri.Mendengar itu, alis Alya mengerut."Bu Alya, aku tahu kamu kesal dengan Pak Emran, tapi demi putra kecil kalian, turunlah dan bujuk Pak Emran. Aku khawatir kalau dia terjadi sesuatu," ujar Jefri."Baiklah," kata Alya.Alya menutup telepon, kemudian mengambil kardigan rajut panjang dan memakainya.Kini sudah pertengahan Septe
Baca selengkapnya