Khairen menunduk, menyentuh rambut Sunrise dengan jemari yang masih gemetar. Gerakannya lembut, seolah setiap sentuhan adalah permohonan maaf yang tak terucap. Ia menggeser langkah mereka ke arah tempat tidur.Sunrise mengikuti, menyandarkan punggung pada ranjang, menatap Khairen dengan tatapan yang hangat "Aku mempercayaimu, Khairen.”Kata-kata itu mematahkan sisa pertahanan Khairen. Ia menunduk, mengecup kening Sunrise, lalu pelipisnya, lalu berhenti di mata, menahan diri, sebelum akhirnya bibir mereka bertemu kembali. Kali ini berbeda. Tidak ada desakan. Tidak ada gejolak yang menyerbu. Hanya kedalaman yang tumbuh pelan, seperti keputusan yang diteguhkan bersama.Tangan Khairen menyusuri punggung Sunrise, hangat dan lembut. Sunrise membalas dengan memeluk lehernya. Detak jantung mereka perlahan menyatu, menyisakan keheningan yang intim.Khairen berbisik di sela napas, “Jika ada satu detik saja kau ingin aku berhenti, katakan.”Sunrise tersenyum kecil, matanya tak lepas dari pria it
Last Updated : 2026-02-17 Read more