Di dalam, suara itu mereda. Sunyi menyusul. Leo menunggu beberapa detik, berharap pintu terbuka atau seseorang keluar. Namun tidak ada."Silahkan masuk aja," gumamnya pelan, meyakinkan diri.Saat itulah pintu terbuka sedikit dari dalam. Leo refleks melangkah mundur. Seorang perempuan muncul, ia cepat-cepat merapikan rambut dan kerah blusnya. Wajahnya memerah, tatapannya terkejut melihat Leo berdiri di sana."Oh Pak Leo," ucapnya gugup. "Pak Amar… sedang rapat."Leo mengangguk kaku. "Oh. Maaf. Saya nanti saja."Perempuan itu tersenyum canggung dan menutup pintu kembali. Leo berdiri terpaku, perasaan aneh mengalir di dadanya. Rasa penasaran terjawab setengah, namun justru menambah beban.Ia berbalik dan berjalan menjauh, pikirannya riuh."Jadi itu…" Leo mengusap wajahnya. "Ini kantor. Dan Pak Amar…"Ia kembali ke ruangannya, duduk, namun sulit berkonsentrasi. Pikirannya melompat-lompat tentang Dinda, tentang Sindi, tentang Ayu, dan kini tentang Pak Amar.Tak lama, ponselnya bergetar. N
Last Updated : 2026-01-18 Read more