LOGINLeo pamit dari rumah dengan senyum yang ia paksakan. Dinda mengantarnya sampai ke pintu, seperti biasa lembut, penuh perhatian. Sindi berdiri tak jauh, ikut menyalami Leo dengan sikap yang terlihat wajar. Tidak ada yang aneh secara kasat mata. Namun justru itulah yang membuat hati Leo tidak benar-benar tenang."Mas hati-hati di jalan," ucap Dinda sambil merapikan kerah kemeja Leo."Iya, Sayang," jawab Leo pelan. Tangannya sempat menyentuh tangan Dinda, lalu ia melangkah keluar.Sebelum benar-benar pergi, Leo melirik ke arah Sindi. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tidak ada kata-kata, hanya pemahaman diam-diam. Leo percaya, jika memang ada sesuatu yang tidak beres, Sindi akan memberitahunya. Kepercayaan itu satu-satunya pegangan Leo saat ini.Mobil melaju meninggalkan rumah. Begitu gerbang tertutup, wajah Leo berubah. Senyum yang tadi dipaksakan menghilang. Ia menghela napas panjang."Kenapa rasanya semua jadi rumit begini…" gumamnya sendiri.Sepanjang perjalanan ke kantor, nama itu teru
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah dari luar kamar. Pintu terbuka perlahan, dan Dinda masuk dengan senyum kecil di wajahnya. Tangannya memegang cangkir."Mas sudah bangun?" tanya Dinda lembut.Leo menoleh, berusaha menampilkan wajah biasa. "Iya, Sayang."Dinda mendekat, meletakkan cangkir di meja kecil. "Aku bikin susu hangat Mas. Diminum yah mumpung masih hangat."Leo mengangguk. "Iya, Sayang. Makasih...."Dinda duduk di sisi ranjang. "Mas kelihatan kurang bugar. Tidurnya nggak nyenyak ya?"Pertanyaan itu membuat Leo menelan ludah. Ia menatap wajah istrinya, wajah yang terlihat tulus, sedikit pucat karena kehamilan, namun tetap hangat seperti biasa."Lumayan tidur sih," jawab Leo singkat. "Kepikiran kerjaan aja.""Oh...." Dinda mengangguk pelan. "Jangan terlalu dipikirin. Kesehatan Mas juga penting."Leo mengiyakan, meski pikirannya melayang ke arah lain. Ia ingin bertanya. Ingin langsung menembakkan satu nama itu. "Rendi"Namun lidahnya terasa berat. Ia takut dengan jawabann
"Mas, kenapa sih?" tanya Dinda sambil menatap wajah suaminya. "Kok diam aja?"Leo tersentak dari lamunannya. Ia baru sadar bahwa tangannya masih menggenggam gagang pintu, dan matanya, tanpa sengaja sempat tertuju ke arah Sindi. Detik itu juga dadanya menghangat oleh rasa bersalah."Nggak apa-apa," jawab Leo cepat, berusaha tersenyum. "Sindi kayaknya mau begadang."Dinda mengerling, seolah mencoba membaca raut wajah Leo. Namun kemudian ia menghela napas kecil dan mendekat. "Ya sudah biarin lah, Mas. Ayo kita tidur aja. Dari tadi aku nungguin."Leo mengangguk. Ia melangkah ke dalam kamar, mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur dengan cahaya temaram. Saat ia berbaring, Dinda langsung mendekat dan menyelipkan tubuhnya ke dalam pelukan Leo, seperti kebiasaannya."Mas... Peluk aku," pinta Dinda manja, suaranya lirih. "Aku mau tidurnya di peluk."Leo terdiam sejenak, lalu mengangkat lengannya dan memeluk Dinda. Tubuh istrinya terasa hangat, familiar, dan seharusnya menenangkan. Namun
"Aku tahu… Mas Leo pasti lagi pengen, iya kan. Ngaku aja...." Sindi meledek, terkekeh kecil.Sontak Leo terkejut."Hah? Nggak. Kamu ini kalau ngomong jangan sembarangan ih," bantahnya cepat.Sindi tersenyum, kali ini lebih berani."Mas Leo bohong," ucapnya sambil mencondongkan badan sedikit."Aku tahu kok. Kelihatan banget kalau Mas Leo lagi tegang."Leo melirik cepat ke arah kamar Dinda. Jantungnya berdetak semakin keras."Sindi… pelan sedikit," ucapnya setengah berbisik. "Jangan keras-keras."Sindi menutup mulutnya, terkekeh kecil."Iya, iya… takut ketahuan Mbak Dinda?"Leo tidak menjawab. Diamnya justru menjadi jawaban.Saat itu terjadi sesuatu yang tak terduga. Sindi yang sedang terkekeh, tangannya bergerak tanpa sengaja dan menyentuh tepat di bagian area kejantanan Leo. Sentuhan itu singkat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat tubuh Leo menegang.Sindi langsung menarik tangannya."Eh! Maaf, Mas," ucapnya cepat, matanya membesar.Leo terdiam. Degup jantungnya berdetak kenc
Malam itu rumah terasa tenang. Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan hampir pukul delapan. Televisi menyala dengan volume kecil, menemani Leo dan Dinda yang duduk berdampingan. Dinda bersandar nyaman, sesekali menimpali acara yang mereka tonton. Leo mengangguk-angguk, tapi pikirannya melayang."Mas kelihatan capek," ucap Dinda lembut. "Kalau mau istirahat duluan gak apa-apa, Mas.""Nggak kok, Sayang. Aku sepertinya lupa ada tugas, sebentar aku mau ke kamar," jawab Leo. "Ada dokumen yang harus aku cek."Dinda tersenyum. "Ya sudah. Jangan lama-lama ya."Leo berdiri dan melangkah ke kamar. Ia membuka koper, mengeluarkan beberapa berkas, lalu berhenti. Alisnya berkerut. Ia membongkar ulang, menarik map satu per satu. Map biru yang ia cari tidak ada."Hah… kok gak ada?" gumamnya.Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mengingat. "Terakhir aku pakai di kantor… iya, di meja." Leo menghela napas kesal. Ia berdiri lagi dan keluar kamar.Dinda menoleh saat melihat Leo kembali ke ruang keluarga.
Ayu membeku. Matanya membesar, jelas kaget dengan pertanyaan itu."Tidak, Pak," jawabnya cepat, hampir refleks. "Sama sekali tidak."Leo menatap wajah Ayu, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun yang ia lihat justru keterkejutan yang tulus."Aku bahkan baru tahu soal ini dari cerita Pak Leo," lanjut Ayu. "Setahuku, Pak Amar baik dan profesional. Aku gak pernah diperlakukan aneh."Entah kenapa, Leo merasa dadanya sedikit lebih ringan mendengar jawaban itu. Ia menghela napas, lalu mengangguk pelan."Syukurlah," gumamnya tanpa sadar.Ayu menatap Leo dengan ekspresi heran. "Pak Leo kelihatan… khawatir sekali."Leo tersenyum tipis, tapi tidak menjawab langsung. Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Ayu bukan siapa-siapa baginya secara resmi. Ia sudah punya istri. Namun tetap saja, ada rasa tidak rela membayangkan Ayu diperlakukan tidak pantas oleh orang lain."Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Leo pelan. "Hati-hati saja. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu berhak menolak."Ayu te






