Langkah kaki Ana terasa sangat berat saat ia menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pintu ruang kerja Kevin sedikit terbuka, dan dari sela-selanya, ia bisa melihat Rafi berdiri mematung dengan kepala menunduk di hadapan meja besar itu.Suasana di dalam sana begitu sunyi, jenis kesunyian yang mencekam sebelum sebuah vonis dijatuhkan.Tanpa berpikir panjang, Ana mendorong pintu lebih lebar. Suara derit kayu jati itu membuat kedua pria di dalam ruangan menoleh serentak.“Tuan, tolong... jangan pecat Mas Rafi,” ucap Ana spontan, suaranya parau dan napasnya memburu.Kevin menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap Ana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Senyum miring kembali tersungging di bibirnya. “Berani juga kamu masuk ke sini tanpa izin, Na. Kamu pikir ini pasar?”“Saya minta maaf, Tuan. Tapi ini salah saya, bukan Mas Rafi. Dia cuma mau bantu saya tadi. Tolong, jangan hukum dia karena kebaikan yang dia kasih ke saya,” rintih Ana. Ia melangkah maju, berdiri di samping Rafi ya
Read more