Share

29. Cemburu Buta

Author: Nhaya_Khania
last update publish date: 2026-04-19 23:20:16

Matahari sore yang mulai meredup menyisakan semburat jingga di atas gerbang besi hitam rumah Kevin yang menjulang. Ana sedang menyapu daun-daun kering di area taman depan saat ia melihat sebuah motor berhenti di depan pagar.

Pengendara itu membuka helmnya, menampakkan wajah yang sangat familiar bagi Ana. Itu Bimo, teman masa sekolahnya di kampung yang kini merantau jadi kurir ekspedisi di Jakarta.

“Ana!” panggil Bimo sambil melambaikan tangan dari balik jeruji pagar.

Ana terkejut sekaligus sena
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Majikanku   39. Siasat Keluar Rumah

    Pagi itu, suasana di ruang makan terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Kevin duduk dengan tenang sambil melipat koran bisnisnya, sementara Clara sibuk mengolesi roti panggang dengan selai stroberi yang aromanya memenuhi ruangan.Ana berdiri di sudut, memegang nampan perak dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat kejadian di area cuci mobil kemarin.“Clara, hari ini aku butuh Ana ikut ke kantor sebentar,” ucap Kevin tiba-tiba, suaranya terdengar sangat kasual, seolah sedang membahas jadwal rapat biasa.Clara menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, matanya menyipit penuh kecurigaan. “Ke kantor? Buat apa, Mas? Kita kan punya banyak staf di sana. Kenapa harus bawa pelayan rumah?”Kevin menyesap kopinya perlahan sebelum menjawab. “Aku mau renovasi ruang kerja pribadi dan ruang tunggu klien. Aku butuh perspektif orang yang biasa urus tata letak barang-barang kecil dan kebersihan. Staf kantorku cuma tahu soal angka, mereka nggak punya selera domestik kayak Ana. Lagian, c

  • Penghangat Ranjang Majikanku   38. Perhatian Kecil Rafi

    Siang itu, matahari seolah berhenti tepat di atas ubun-ubun, membuat uap panas menguap dari aspal halaman samping. Ana berjalan menuju area jemuran dengan langkah gontai, membawa sebaskom besar pakaian yang baru saja selesai dibilas.Matanya yang sembab tidak bisa disembunyikan lagi; bengkak dan kemerahan akibat tangisan semalam di paviliun kini tampak jelas terpapar cahaya terang.Rafi, yang sedang sibuk menyemprot ban mobil SUV hitam milik Kevin, langsung menghentikan aliran airnya saat melihat sosok Ana. Ia meletakkan selang, mengelap tangannya yang basah pada celana kainnya yang sudah kusam, lalu menghampiri gadis itu.“Na, sini aku bantu angkat. Itu embernya gede banget, badan kamu lagi nggak fit gitu,” ucap Rafi dengan nada khawatir yang tulus.Ana mencoba memaksakan senyum, tapi yang keluar hanya tarikan garis bibir yang getir. “Nggak usah, Mas Rafi. Nanti dimarahin Tuan lagi kalau kelihatan bantu-bantu aku.”Rafi tidak menghiraukan penolakan itu. Ia mengambil alih baskom terse

  • Penghangat Ranjang Majikanku   37. Jarak yang Menyiksa

    Hari-hari setelah kejadian di kamar tamu terasa seperti berjalan di atas es yang tipis. Ana menerapkan jarak yang nyata. Ia tidak lagi menatap mata Kevin, tidak lagi menjawab lebih dari apa yang ditanyakan, dan selalu menunduk setiap kali pria itu berada di ruangan yang sama.Setiap instruksi dikerjakan dengan presisi tinggi, namun tanpa satu pun emosi. Ia berubah menjadi sosok robot yang efisien, membuat suasana rumah yang memang sudah dingin terasa makin membeku.Kevin mulai terusik. Selama ini, ia terbiasa dengan Ana yang gemetar ketakutan, Ana yang menangis memohon, atau Ana yang sesekali mencoba melawan dengan keberanian yang rapuh.Namun, sikap acuh tak acuh yang sekarang ditunjukkan Ana terasa seperti dinding kaca yang tak bisa ia tembus. Pria itu seringkali kedapatan memperhatikan Ana dari jauh, namun setiap kali Ana sadar sedang diperhatikan, gadis itu segera berbalik dan pergi seolah-olah Kevin tidak ada.Pagi itu di meja makan, ketegangan itu mencapai puncaknya. Clara sedan

  • Penghangat Ranjang Majikanku   36. Luka di Balik Lemari

    Begitu suara langkah kaki Clara dan Kevin menghilang di balik pintu yang tertutup, Ana segera keluar dari kegelapan lemari kayu jati tersebut.Tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin dari AC yang menusuk kulitnya yang berkeringat, melainkan karena rasa hina yang menggelegak di dalam dadanya.Dia berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, menatap ranjang yang seprainya masih sedikit kacau, bekas tempat Clara bermanja-manja pada suaminya tadi.Ana merasa seperti barang rongsokan yang baru saja disembunyikan agar tidak merusak pemandangan sang nyonya besar.Ia menarik ritsleting dress mahalnya yang sempat melorot dengan jari-jari yang masih kaku. Air mata yang tadi ia tahan sekuat tenaga kini mengalir bebas, membasahi pipinya yang kemerahan.Tak lama kemudian, pintu kamar tamu terbuka perlahan. Kevin masuk kembali dengan wajah yang tampak sangat kacau.Ia sudah melepas dua kancing teratas kemejanya, wajahnya menunjukkan kelegaan yang dipaksakan. Begitu melihat Ana berdiri

  • Penghangat Ranjang Majikanku   35. Napas yang Tertahan

    Pintu kamar tamu itu terbuka dengan suara derit pelan yang terasa seperti dentang lonceng kematian di telinga Ana.Kevin bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah Ana bayangkan sebelumnya. Wajahnya yang tadi merah padam karena gairah, kini berubah menjadi pucat pasi dengan keringat dingin yang mulai muncul di pelipis.“Masuk ke sana. Cepat!” bisik Kevin dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan ular.Ia menyambar lengan Ana dan mendorongnya ke arah lemari pakaian besar dari kayu jati yang berdiri di sudut ruangan.Tanpa sempat memprotes atau membenahi gaunnya yang sedikit berantakan, Ana merangkak masuk ke dalam kegelapan di antara deretan jas dan kemeja cadangan milik Kevin. Pintu lemari tertutup tepat saat bayangan Clara muncul di ambang pintu.Ana mendekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Di dalam kegelapan yang sesak itu, bau kayu kering dan parfum maskulin Kevin menyeruak, membuatnya semakin mual karena rasa takut. Dari celah tipis di antara daun pintu lemari

  • Penghangat Ranjang Majikanku   34. Perangkap yang Terpasang

    Pagi itu, suasana rumah terasa jauh lebih ringan. Clara, dengan koper kecil dan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, berpamitan pada Kevin di depan teras.Ia beralasan ada pertemuan mendadak dengan suplier bahan butiknya di Bandung dan akan menginap satu malam di sana. Setelah kecupan kilat di pipi Kevin dan lambaian tangan formal pada Ana, mobil sedan mewah itu meluncur keluar dari gerbang.Namun, di balik kemudi, wajah Clara sama sekali tidak menunjukkan raut wajah orang yang akan bekerja.Ia hanya memutar kendaraannya di kompleks perumahan sebelah, memarkirkan mobilnya di sebuah ruko yang cukup jauh, lalu memesan taksi daring dengan identitas yang tidak mencolok.Ia telah merencanakan ini sejak melihat gelagat aneh suaminya dan seutas rambut di kamar tamu waktu itu.Di dalam rumah, Kevin merasa seolah beban di pundaknya terangkat. “Ana,” panggilnya saat jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. “Hari ini nggak usah masak berat. Nanti kita pesan makan dari luar saja.”“Baik,

  • Penghangat Ranjang Majikanku   12. Tidak ada Pilihan Lain

    Napas Ana berat ketika berdiri di depan pintu ruang kerja majikannya itu.Jujur saja, dia tidak ingin ke ruangan itu. Tidak ingin menatap wajah pria itu lagi setelah malam-malam penuh tekanan dan sindiran.Tapi, sudah tidak ada pilihan lain. Ia sudah mencoba segalanya. Semua kontak

  • Penghangat Ranjang Majikanku   9. Kemarahan Kevin

    “Maaf, Pak Kevin. Saya tidak bisa,” ucap Ana sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan.Kevin sempat tak bereaksi. Tatapannya kosong selama beberapa detik seakan belum sepenuhnya memahami kata-kata itu.“Kamu ... tidak bisa?” ulangnya, nada suaranya berubah tajam. “Alasannya apa sampai kamu meno

  • Penghangat Ranjang Majikanku   11. Sudah Mulai Buntu

    Setelah menenangkan diri sebisanya, Ana kembali ke kamarnya. Ia duduk di sisi ranjang sempit itu dan menggenggam ponsel dengan tangan gemetar.Napasnya masih berat. Matanya sembab, tapi belum ada waktu untuk menangis lebih lama. Ia harus segera bertindak. Harus mencari bantuan. Ibunya butu

  • Penghangat Ranjang Majikanku   10. Kabar yang Mengejutkan

    Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi. Matahari masih malu-malu menyelinap di antara tirai rumah mewah itu.Suasana rumah terasa lengang, hanya terdengar suara gemerisik halus dari dapur yang mulai hidup oleh aktivitas Ana.Ana sudah bangun sejak sebelum fajar, berusaha mengalihkan pikirannya denga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status