Pagi harinya, suasana di rumah besar itu berubah menjadi medan perang bagi Ana.Clara, yang tampaknya masih dibayangi rasa cemas karena rahasianya hampir terbongkar, meluapkan segalanya dalam bentuk perintah-perintah yang tidak masuk akal. Sejak fajar menyingsing, Ana tidak dibiarkan menghela napas barang semenit pun.“Ana! Itu gorden di ruang tengah turunin semua, cuci pakai tangan. Aku nggak mau seratnya rusak kalau pakai mesin,” perintah Clara sambil menyesap kopi paginya di ruang makan.“Tapi Nyonya, gorden itu berat sekali kalau basah, saya sendirian—”“Jangan banyak bantah. Habis itu kamu bersihin semua kristal di lampu gantung. Pakai cairan khusus yang aku beli kemarin. Harus kinclong, nggak boleh ada debu satu pun,” potong Clara tanpa menatapnya. Matanya tetap tertuju pada majalah fashion, seolah-olah Ana hanyalah mesin yang tidak punya rasa lelah.Hingga tengah hari, Ana bekerja layaknya robot. Ia memanjat tangga lipat, menggosok setiap sudut ornamen rumah, dan mengucek kain-
Read more