“Oh, ini... perkenalkan, ini Ana. Dia asisten pribadi baruku, Pak Hendra. Dia lebih banyak urus jadwal private dan riset lapangan, jadi jarang saya bawa ke kantor pusat.”Ana merasa lidahnya kelu. Asisten pribadi? Sebutan itu terasa sangat jauh dari kenyataan bahwa baru tadi pagi ia mengelap lantai ruang tamu. Namun, ia tahu ia harus mengikuti permainan Kevin jika tidak ingin segalanya berantakan di sini.“Selamat siang, Pak,” sapa Ana dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski jemarinya yang bersembunyi di bawah meja sudah berkeringat dingin.Pak Hendra tertawa, kali ini lebih keras. Ia mengabaikan asisten wanitanya sendiri dan malah menarik kursi kosong di meja sebelah untuk duduk lebih dekat.“Asisten pribadi ya? Pantas saja. Kevin ini memang jago kalau pilih staf. Selera kamu makin lama makin naik ya, Vin? Clara tahu nggak kalau asisten suaminya secantik ini?”“Clara yang merekomendasikan sistem perekrutan baru ini, Pak. Jadi nggak ada masalah,” dusta Kevin lagi. Suaranya t
อ่านเพิ่มเติม