Home / Romansa / Penghangat Ranjang Majikanku / 34. Perangkap yang Terpasang

Share

34. Perangkap yang Terpasang

Author: Nhaya_Khania
last update publish date: 2026-04-21 23:06:58

Pagi itu, suasana rumah terasa jauh lebih ringan. Clara, dengan koper kecil dan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, berpamitan pada Kevin di depan teras.

Ia beralasan ada pertemuan mendadak dengan suplier bahan butiknya di Bandung dan akan menginap satu malam di sana. Setelah kecupan kilat di pipi Kevin dan lambaian tangan formal pada Ana, mobil sedan mewah itu meluncur keluar dari gerbang.

Namun, di balik kemudi, wajah Clara sama sekali tidak menunjukkan raut wajah orang yang akan bek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Majikanku   51. Undangan Pesta Perusahaan

    Pesta ulang tahun perusahaan itu diadakan di ballroom hotel berbintang lima yang sangat mewah. Lampu gantung kristal yang besar memantulkan cahaya ke segala penjuru, membuat suasana terasa sangat megah dan menyilaukan bagi Ana.Ia mengenakan setelan blazer formal yang rapi, pakaian yang diberikan Kevin dengan dalih agar ia terlihat profesional sebagai staf tambahan yang bertugas mengurus keperluan teknis acara.Ana berdiri di sudut ruangan, di balik meja registrasi yang tersembunyi oleh dekorasi bunga. Tugasnya sebenarnya hanya formalitas; Kevin hanya ingin Ana ada di sana, di dalam jangkauan pandangannya. Namun bagi Ana, berada di sini justru terasa seperti siksaan perlahan.“Na, tolong cek daftar tamu VVIP sekali lagi. Pastikan Pak Hendra dan istrinya sudah masuk di list kursi depan,” ucap seorang staf panitia dengan terburu-buru.“Iya, Mbak. Ini sudah saya cek, semua sudah aman,” sahut Ana pelan.Pandangan Ana kemudian be

  • Penghangat Ranjang Majikanku   50. Kebohongan pada Keluarga

    Bibi Ratna melangkah mendekat, langkahnya pelan namun terasa sangat berat di telinga Ana.Wanita tua itu tidak melepaskan pandangannya dari Kevin yang berdiri kaku sambil menenteng sepatu. Suasana koridor paviliun yang biasanya riuh dengan suara burung gereja pagi ini mendadak terasa hampa udara.“Pipa bocor, Den?” tanya Bibi Ratna lagi, suaranya serak namun tajam. Matanya yang mulai mengeruh itu menyapu lantai koridor yang kering kerontang. Tidak ada jejak air, tidak ada genangan, bahkan tidak ada satu pun ember di sana.“Iya, Bi. Sudah saya tutup keran pusatnya tadi, makanya nggak banjir lagi. Saya mau balik ke atas dulu, gerah,” sahut Kevin.Ia mencoba memasang wajah datar andalannya, lalu segera mengenakan sepatunya dengan terburu-buru. Tanpa menoleh lagi ke arah Ana, Kevin berjalan cepat meninggalkan koridor itu menuju pintu penghubung rumah utama.Kini, hanya tersisa Ana dan Bibi Ratna. Keheningan yang tercipta jauh le

  • Penghangat Ranjang Majikanku   49. Pagi yang Berbahaya

    Cahaya fajar yang abu-abu mulai menyelinap masuk melalui celah ventilasi di atas pintu kamar. Ana terbangun dengan sentakan jantung yang menyakitkan. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat di pinggangnya, lengan Kevin yang masih melingkar erat di sana. Ana melirik jam beker kecil di atas meja nakas. Pukul lima pagi.“Tuan... Tuan Kevin, bangun!” bisik Ana dengan nada panik yang tertahan. Ia menggoyangkan bahu Kevin dengan kuat.Kevin mengerang, matanya terbuka perlahan dan tampak sangat linglung. Ia butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa ia tidak berada di ranjang king size-nya yang empuk, melainkan di kamar sempit paviliun pelayan.“Jam berapa ini?” tanya Kevin dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.“Sudah jam lima lewat, Tuan! Pelayan lain sebentar lagi bangun buat masak dan nyuci. Tuan harus keluar sekarang!” Ana sudah turun dari kasur, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-ja

  • Penghangat Ranjang Majikanku   48. Bukan Sekadar Fisik

    Suasana di kamar paviliun itu sangat sunyi, hanya ada suara putaran kipas angin kecil yang menempel di dinding. Kamar itu sempit, hanya berisi sebuah ranjang kayu single, satu lemari plastik, dan meja kecil tempat Ana menaruh barang-barangnya.Kevin berbaring di sana, di atas kasur busa yang tipis, sementara Ana duduk bersandar di kepala ranjang dengan lutut tertekuk.Tidak ada keintiman fisik yang liar seperti yang dikhawatirkan Ana sebelumnya. Kevin hanya memejamkan mata, melepaskan jam tangan mahalnya, dan menaruhnya begitu saja di atas lantai semen yang dialasi karpet plastik.“Kamu nggak pegal duduk begitu?” tanya Kevin tanpa membuka mata.“Nggak, Tuan. Saya terbiasa begini,” jawab Ana pelan. Suaranya hampir berbisik, takut terdengar sampai ke telinga pelayan lain di kamar sebelah.Kevin menghela napas panjang. Ia membuka matanya dan menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas. “Kasur ini keras ya. Bagaimana kamu bisa tidur nyenyak setiap malam?”“Kalau capek kerja s

  • Penghangat Ranjang Majikanku   47. Perlindungan yang Menyesakkan

    Heningnya sore di rumah besar itu terasa lebih mencekik bagi Ana. Ia masih memegang spons basah di dapur, menatap sisa sabun yang berbusa di piring-piring porselen.Kejadian pagi tadi, ketika Kevin membelanya di depan Clara dengan alasan kado untuk kolega terus berputar di kepalanya.Itu adalah kebohongan besar yang menyelamatkannya dari tuduhan pencurian, namun Ana sadar, ia baru saja menyerahkan nyawanya ke tangan Kevin.“Selesai, Ana?” suara berat itu tiba-tiba memecah lamunan.Ana tersentak hingga piring di tangannya nyaris terlepas. Ia menoleh dan mendapati Kevin sudah berdiri di ambang pintu dapur, bersandar santai dengan tangan terlipat di dada.“Sudah, Tuan,” jawab Ana pelan. Ia menunduk, tidak berani menatap mata pria itu terlalu lama.Kevin melangkah masuk. Ia tidak segera pergi. Ia malah berjalan mendekati meja makan, menarik kursi, lalu duduk di sana. Matanya tidak lepas dari setiap gerakan yang Ana lakukan.“Pagi tadi, kamu takut?” tanya Kevin tiba-tiba.Ana berhenti meng

  • Penghangat Ranjang Majikanku   46. Interogasi Clara

    “Jelaskan ini sekarang, Ana! Jangan cuma diam kayak orang bisu!” bentak Clara. Suaranya melengking, memantul di langit-langit rumah yang tinggi.“Nyonya... saya... saya tidak tahu,” bisik Ana. Suaranya nyaris hilang, tertelan rasa takut yang luar biasa.Clara tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Ana.“Nggak tahu? Ini struk butik couture di Jakarta Selatan. Harganya puluhan juta! Dan struk ini ada di saku celana suamiku. Kamu pikir aku bodoh? Kamu pasti sudah mencuri kartu kredit Mas Kevin pas dia lagi lengah, kan?”“Tidak, Nyonya! Saya bersumpah saya tidak pernah mencuri apa pun!” Ana mendongak, matanya yang sembab menatap Clara dengan putus asa.“Terus kenapa baju itu ada di gudang belakang?! Aku sudah cek tadi subuh! Gaun biru malam yang kamu pakai semalam itu harganya sama dengan gaji kamu setahun!” Clara melangkah maju, menjambak pelan rambut Ana agar gadis itu terus menatapnya.“Bilang sama aku, kamu pakai sihir apa sampai bisa dapet akses ke dom

  • Penghangat Ranjang Majikanku   15. Maafkan Aku ....

    “Ma-maaf, Pak. Saya hanya mau ambil camilan sama kopi aja. Kebetulan tadi lihat Ana lagi melamun. Makanya saya tegur, Pa,” ujar Rafi terbata-bata, suaranya diselimuti ketegangan.Ia tahu betul aura dingin dari Kevin bukanlah hal sepele—sekali salah langkah, bisa berujung pemecatan.Kevin menatap Ra

  • Penghangat Ranjang Majikanku   14. Seperti tidak Terjadi Sesuatu

    Keesokan paginya, udara masih terasa lembap oleh embun yang belum sepenuhnya menguap dari dedaunan.Sinar matahari mengintip malu-malu dari celah tirai dapur tempat Ana sedang berdiri. Matanya sembab, namun ada secercah harapan di dalamnya.Ia menekan tombol panggilan di layar ponselnya, menghubung

  • Penghangat Ranjang Majikanku   13. Harga yang Harus Dibayar

    Waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam. Sore tadi, Kevin membawakan sebuah lingerie tipis yang harus dia gunakan untuk melayani Kevin malam ini.Ana berdiri di depan cermin kamarnya. Rambutnya ia sisir pelan, meski dengan tangan gemetar. Seragam kerja sudah dia tanggalkan, diganti dengan

  • Penghangat Ranjang Majikanku   12. Tidak ada Pilihan Lain

    Napas Ana berat ketika berdiri di depan pintu ruang kerja majikannya itu.Jujur saja, dia tidak ingin ke ruangan itu. Tidak ingin menatap wajah pria itu lagi setelah malam-malam penuh tekanan dan sindiran.Tapi, sudah tidak ada pilihan lain. Ia sudah mencoba segalanya. Semua kontak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status