Home / Romansa / Penghangat Ranjang Majikanku / 45. Malam di Luar Rencana

Share

45. Malam di Luar Rencana

Author: Nhaya_Khania
last update publish date: 2026-04-24 23:38:23

Malam sudah jatuh sepenuhnya saat mobil sedan hitam itu perlahan memasuki gerbang rumah. Lampu teras yang berpendar kekuningan menyambut mereka dengan suasana yang janggal.

Kevin mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Ia menatap Ana yang masih menggenggam tangannya, lalu perlahan melepaskannya dengan berat hati.

“Ingat, tetap tenang. Biar aku yang bicara,” bisik Kevin sambil merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

Ana mengangguk, meski jantungnya bertalu-talu di balik gaun biru malam yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penghangat Ranjang Majikanku   54. Aku Hidup Karenamu

    Malam itu, rumah besar tersebut terasa sangat dingin. Acara pesta perusahaan baru saja berakhir dua jam yang lalu, namun ketegangan masih tertinggal di setiap sudut ruangan.Ana sudah melepas setelan blazernya dan kembali mengenakan seragam pelayan yang biasa. Ia berdiri sendirian di dapur yang luas, mencuci tumpukan piring terakhir dengan gerakan mekanis.Suara gemericik air dari keran adalah satu-satunya bunyi yang mengisi kesunyian. Ana terus menunduk, mencoba membuang bayangan wajah Clara yang memegang antingnya di taman hotel tadi. Ia tahu hari-hari tenangnya di rumah ini sudah berakhir.Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Ana tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau kayu cendana yang familiar mulai memenuhi indra penciumannya.“Tuan, ini sudah malam. Nyonya Clara pasti menunggu di kamar,” ucap Ana tanpa menghentikan pekerjaannya.Kevin tidak menjawab. Ia justru melangkah maju, melewati batas privasi yang biasanya Ana jaga.Sebelum Ana sempat berea

  • Penghangat Ranjang Majikanku   53. Menemukan Sesuatu

    Di dalam ballroom, musik masih mengalun, tapi Clara sudah tidak bisa lagi memasang senyum palsunya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok suaminya yang seharusnya berdiri di sampingnya untuk menyalami tamu-tamu penting.Kevin sudah menghilang lebih dari lima belas menit. Matanya beralih ke sudut ruangan, ke arah meja registrasi, dan ia menyadari asisten “tambahan” itu juga tidak ada di posisinya.“Permisi, saya mau cari angin sebentar,” ucap Clara pada Pak Hendra yang sedang asyik bercerita.Clara melangkah cepat menuju pintu samping yang mengarah ke taman hotel. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres.Ia tidak memedulikan gaun merahnya yang sedikit terseret di lantai kayu teras. Begitu sampai di area luar, suasana sangat sunyi, hanya ada suara air mancur dan hembusan angin malam.Di balik pohon besar, Kevin melepaskan tautan bibirnya dari Ana. Napas mereka masih berburu, namun telinga Kevin menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Suara hak sepatu yang beradu dengan lant

  • Penghangat Ranjang Majikanku   52. Pelarian ke Taman

    Ballroom yang megah itu mendadak terasa sesak bagi Ana. Suara denting gelas kristal dan tawa basa-basi para sosialita terdengar seperti dengungan lebah yang menyakitkan telinga.Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana, menyaksikan Kevin yang masih betah merangkul pinggang Clara di bawah sorotan lampu panggung. Dengan langkah terburu-buru, Ana menyelinap keluar melalui pintu samping menuju taman belakang hotel yang remang-remang.Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya, sedikit meredakan panas di dadanya. Ana berjalan menjauh dari kebisingan, menuju sudut taman yang hanya diterangi lampu-lampu hias kecil di sela pepohonan. Ia berhenti di dekat air mancur kecil, mencoba mengatur napasnya yang tersengal.“Kenapa kamu di sini?”Suara itu membuat Ana tersentak. Ia berbalik dan menemukan Kevin sudah berdiri beberapa meter darinya. Jas tuxedo-nya masih rapi, tapi dasi kupu-kupunya sudah sedikit dilonggarkan.“Tuan? Kenapa Tuan di sini? Nyonya Clara pasti mencari Tuan,” ucap Ana sam

  • Penghangat Ranjang Majikanku   51. Undangan Pesta Perusahaan

    Pesta ulang tahun perusahaan itu diadakan di ballroom hotel berbintang lima yang sangat mewah. Lampu gantung kristal yang besar memantulkan cahaya ke segala penjuru, membuat suasana terasa sangat megah dan menyilaukan bagi Ana.Ia mengenakan setelan blazer formal yang rapi, pakaian yang diberikan Kevin dengan dalih agar ia terlihat profesional sebagai staf tambahan yang bertugas mengurus keperluan teknis acara.Ana berdiri di sudut ruangan, di balik meja registrasi yang tersembunyi oleh dekorasi bunga. Tugasnya sebenarnya hanya formalitas; Kevin hanya ingin Ana ada di sana, di dalam jangkauan pandangannya. Namun bagi Ana, berada di sini justru terasa seperti siksaan perlahan.“Na, tolong cek daftar tamu VVIP sekali lagi. Pastikan Pak Hendra dan istrinya sudah masuk di list kursi depan,” ucap seorang staf panitia dengan terburu-buru.“Iya, Mbak. Ini sudah saya cek, semua sudah aman,” sahut Ana pelan.Pandangan Ana kemudian be

  • Penghangat Ranjang Majikanku   50. Kebohongan pada Keluarga

    Bibi Ratna melangkah mendekat, langkahnya pelan namun terasa sangat berat di telinga Ana.Wanita tua itu tidak melepaskan pandangannya dari Kevin yang berdiri kaku sambil menenteng sepatu. Suasana koridor paviliun yang biasanya riuh dengan suara burung gereja pagi ini mendadak terasa hampa udara.“Pipa bocor, Den?” tanya Bibi Ratna lagi, suaranya serak namun tajam. Matanya yang mulai mengeruh itu menyapu lantai koridor yang kering kerontang. Tidak ada jejak air, tidak ada genangan, bahkan tidak ada satu pun ember di sana.“Iya, Bi. Sudah saya tutup keran pusatnya tadi, makanya nggak banjir lagi. Saya mau balik ke atas dulu, gerah,” sahut Kevin.Ia mencoba memasang wajah datar andalannya, lalu segera mengenakan sepatunya dengan terburu-buru. Tanpa menoleh lagi ke arah Ana, Kevin berjalan cepat meninggalkan koridor itu menuju pintu penghubung rumah utama.Kini, hanya tersisa Ana dan Bibi Ratna. Keheningan yang tercipta jauh le

  • Penghangat Ranjang Majikanku   49. Pagi yang Berbahaya

    Cahaya fajar yang abu-abu mulai menyelinap masuk melalui celah ventilasi di atas pintu kamar. Ana terbangun dengan sentakan jantung yang menyakitkan. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat di pinggangnya, lengan Kevin yang masih melingkar erat di sana. Ana melirik jam beker kecil di atas meja nakas. Pukul lima pagi.“Tuan... Tuan Kevin, bangun!” bisik Ana dengan nada panik yang tertahan. Ia menggoyangkan bahu Kevin dengan kuat.Kevin mengerang, matanya terbuka perlahan dan tampak sangat linglung. Ia butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa ia tidak berada di ranjang king size-nya yang empuk, melainkan di kamar sempit paviliun pelayan.“Jam berapa ini?” tanya Kevin dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.“Sudah jam lima lewat, Tuan! Pelayan lain sebentar lagi bangun buat masak dan nyuci. Tuan harus keluar sekarang!” Ana sudah turun dari kasur, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-ja

  • Penghangat Ranjang Majikanku   11. Sudah Mulai Buntu

    Setelah menenangkan diri sebisanya, Ana kembali ke kamarnya. Ia duduk di sisi ranjang sempit itu dan menggenggam ponsel dengan tangan gemetar.Napasnya masih berat. Matanya sembab, tapi belum ada waktu untuk menangis lebih lama. Ia harus segera bertindak. Harus mencari bantuan. Ibunya butu

  • Penghangat Ranjang Majikanku   14. Seperti tidak Terjadi Sesuatu

    Keesokan paginya, udara masih terasa lembap oleh embun yang belum sepenuhnya menguap dari dedaunan.Sinar matahari mengintip malu-malu dari celah tirai dapur tempat Ana sedang berdiri. Matanya sembab, namun ada secercah harapan di dalamnya.Ia menekan tombol panggilan di layar ponselnya, menghubung

  • Penghangat Ranjang Majikanku   13. Harga yang Harus Dibayar

    Waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam. Sore tadi, Kevin membawakan sebuah lingerie tipis yang harus dia gunakan untuk melayani Kevin malam ini.Ana berdiri di depan cermin kamarnya. Rambutnya ia sisir pelan, meski dengan tangan gemetar. Seragam kerja sudah dia tanggalkan, diganti dengan

  • Penghangat Ranjang Majikanku   12. Tidak ada Pilihan Lain

    Napas Ana berat ketika berdiri di depan pintu ruang kerja majikannya itu.Jujur saja, dia tidak ingin ke ruangan itu. Tidak ingin menatap wajah pria itu lagi setelah malam-malam penuh tekanan dan sindiran.Tapi, sudah tidak ada pilihan lain. Ia sudah mencoba segalanya. Semua kontak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status