Jalanan aspal yang basah oleh sisa gerimis menjadi saksi bisu amarah Bahtiar yang meledak. Ia menepikan mobilnya ke bahu jalan. Tangannya memukul setir, bukan lagi sekali, tapi berulang kali. Menyalurkan rasa frustrasi dan pengkhianatan yang menyesakkan dada. “Sora,” desis Bahtiar, “Berani-beraninya dia!” Ayu meringkuk di kursi penumpang. Tubuhnya masih dingin. Ingatan tentang didorong itu memang belum utuh, tapi rasa panik dan trauma itu nyata. Ia menoleh pada Bahtiar yang kini tampak seperti Tuan Rentenir yang dulu: keras, penuh perhitungan, dan siap mengerahkan semua upaya. Bedanya, kali ini, amarahnya bukan ditujukan kepada pengutang. “Tunggu, tunggu … bisa jelaskan ke Mama dulu, Sora ini siapa?” potong Bu Ely. Matanya menatap Bahtiar dan Ayu bergantian. “Pemilik villa sekaligus orang yang mengajak kami menginap di Puncak, Ma,” jawab Bahtiar tanpa menoleh. “Apa salah Ayu sampai dia tega berbuat begitu?” “Apa pun alasannya, mendorong seseorang sampai masuk jurang tetap tida
Last Updated : 2025-12-14 Read more