Seketika Valari melompat dan menendang dada kakek tua penasihatnya sendiri. Tubuh rentan Hera terseret beberapa meter di atas lantai batu pualam. Valari sudah kepalang marah. Nafasnya berburu, matanya memerah kilat saat jemarinya mencabut belati berukir dari sarung di pinggangnya."Ampun, Tuan Valari! Ampun!" teriak Hera dengan suara parau bercampur terbatuk-batuk.Dengan sisa tenaganya, Hera merangkak mundur, terus memohon sembari mencoba memberikan informasi penting. "Hutan itu... ada rahasia di dalam Hutan Rot yang belum Anda ketahui, Yang Mulia! Dengarkan hamba—"Namun Valari sudah buta akan pujian dan rasa haus kekuasaan. Suaranya tertutup oleh kepalanya yang dipenuhi kesombongan. Ia melangkah cepat, menyambar kerah gaun tua Hera, lalu mengagkat tubuh tua renta itu dengan tangan kanannya. Tanpa ragu sedikit pun, tangan kiri Valari yang menggenggam belati menghujam tajam, menembus tepat di bagian dada tua Hera.Jleb!Darah segar berwarna merah pekat mengalir deras dari mulut Hera,
Read More