Mendengar janji Torin untuk menemui Paman Tapa—salah satu tetua Suku Ek yang paling disegani sekaligus ayah Lara—wajah Rion mendadak berubah menjadi merah padam, jauh lebih merah daripada jubah rubah yang ia lihat di istana tadi pagi.Rion yang biasanya dingin, taktis, dan tak kenal takut di depan musuh, kini mendadak kikuk. Ia membungkuk sangat dalam, hampir menyentuh lututnya sendiri."Te... terima kasih banyak, Tuan! Saya... saya tidak tahu harus berkata apa. Kebaikan Anda sungguh luar biasa," jawab Rion dengan suara yang sedikit bergetar karena haru dan malu. "Kalau begitu, saya... saya mohon undur diri ke pendopo sekarang."Rion berbalik dengan terburu-buru, hampir saja tersandung kaki kursi karena saking gugupnya, lalu setengah berlari keluar menuju pendopo luar yang menghadap air terjun.Begitu pintu tertutup di belakang Rion, tawa Zeni dan Zano pecah seketika. Suara tawa mereka menggema memenuhi ruangan, memecah kesunyian malam di dasar jurang Tra."Lihatlah mata-mata terbaikm
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya