"Baru sampai," kata Lambert.Brielle memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu ikut turun dari mobil dan berdiri bersamanya di bawah deretan pohon. Embusan udara dingin menyapu, mantel yang dikenakan Brielle tergolong tipis. Dia menyilangkan lengan, sementara Lambert berkata dengan nada khawatir, "Lain kali keluar bawa jaket yang lebih tebal."Lambert mengenakan setelan jas, meski tidak tebal, dia lebih tahan dingin."Iya, lain kali aku ingat," Brielle tersenyum. Ujung hidungnya yang mancung tampak sedikit memerah karena dingin."Kamu duduk saja di mobil, aku yang masuk menjemput Anya," Lambert ingin memintanya kembali ke mobil.Brielle menggeleng. "Nggak apa-apa. Cuma sebentar, kok. Nggak akan kedinginan."Lambert menatapnya dengan pasrah, hanya berharap gerbang sekolah segera dibuka agar mereka bisa menjemput anak lalu pergi.Tak lama kemudian, gerbang sekolah terbuka. Lambert dan Brielle masuk ke area sekolah dan menuntun anak-anak keluar. Tiba-tiba Anya menggenggam tangan Bri
Mehr lesen