Mata Jay meredup sedikit. Benar saja, dia selalu terlambat selangkah. Kalau saja dia bisa menemani Devina sejak awal, apakah dia bisa menempati posisi yang lebih penting di hatinya?"Dia benar-benar peduli padamu," ujar Jay. Hal itu selalu dia lihat dengan jelas. Setiap kali Devina mengalami luka sekecil apa pun, sikap dan reaksi Raka selalu penuh perhatian.Bahkan urusan minum alkohol pun dia awasi dengan sangat ketat, seolah-olah Devina adalah sebuah karya seni mahal, tak mengizinkan sedikit pun kemungkinan dirinya terluka.Devina tersenyum tipis sambil mengatupkan bibir, lalu menyapa Jay, "Di sana ada teh, minumlah."Jay melirik segelas air di samping, lalu langsung mengangkatnya dan meneguknya. Devina buru-buru memanggil, "Itu gelasku ...."Jay mendengarnya, tetapi tetap meminumnya. Setelah selesai, dia tersenyum kecil. "Kamu keberatan?"Devina tampak agak malu dan menunduk. "Nggak kok. Kamu mau datang menjengukku saja, aku sudah sangat berterima kasih."Saat itu, Gavin masuk dari
Mehr lesen