“Tapi kamu ke klinik dulu, kan, Sayang?” tanya Gendis lirih. Tangannya tetap menyangga tubuh Bima yang menyusu, sementara matanya menatap Rain penuh kekhawatiran. “Hati-hati, pokoknya. Aku nggak mau sampai ada apa-apa…” “Ada apa-apa sama dia atau sama saya?” Rain membalas sambil mengangkat alis, setengah menggoda. “Sama dianya sih,” jawab Gendis cepat, menahan senyum yang nyaris berubah tawa. Rain tertawa pendek. “Hahaha…” Tawa kecil itu menular. Gendis ikut tersenyum, dan seolah merasakan suasana hangat itu, Bima ikut terkikik pelan sebelum kembali tenang mengisap ASI dari ibunya—tanpa tahu bahwa pagi ini, di balik canda ringan kedua orang tuanya, ada bahaya yang perlahan mendekat. Rain mengenakan helm dan bersiap pergi bekerja. “Pergi dulu, ya, Sayang,” ucap Rain sambil menyodorkan tangannya. Gendis mengecup punggung tangan itu dengan lembut. Bima ikut menirukan, bibir kecilnya menempel canggung, lalu ia tertawa geli ketika Rain mencolek perut gendutnya. “Hati-hati,
Last Updated : 2025-12-16 Read more