“Laki-laki lain?” ulang Gendis sambil menahan tawa, sudut bibirnya terangkat geli. “Laki-laki lain… ada sih,” lanjutnya ringan, lalu terkekeh kecil. “Lagi tidur dikamar, habis minum ASI,” tambah Gendis, matanya otomatis melirik ke arah kamar tidur Bima, sambil tertawa. “Duh, kamu itu,” dengus ibu Rain dari seberang telepon, nadanya terdengar kesal namun familiar. “Pokoknya Mama minta sepuluh juta ya, hari ini. Mama ada keperluan pribadi yang mendesak,” ucapnya tanpa basa-basi. “Iya, tapi kalau Mas Rain sudah kasih izin, ya, Ma…,” ucap Gendis santai, meski rahangnya sedikit mengeras menahan kesal. “Soalnya, kayak yang Mama bilang, aku ini pengangguran—nggak kerja. Jadi apa pun yang mau aku lakuin, termasuk soal uang, aku harus izin sama suami.” Ujang yang duduk di ruang makan tampak mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, napasnya ditahan. Ucapan ibu Rain yang berkali-kali menyudutkan Gendis jelas membuatnya geram, meski ia memilih diam. “Mama telepon Rain sekarang,” ucap
最終更新日 : 2025-12-29 続きを読む