LOGIN“Apa buktinya cukup?” tanya Cipta dingin. Pertanyaan itu seketika menambah ketakutan Wanda yang berdiri di sisinya.“Sayang... jangan, dong...” bisik Wanda lirih pada suaminya, memohon agar Cipta tidak menanggapi niat Rain secara profesional sebagai polisi. Namun, Cipta hanya diam, mencengkeram jemari Wanda dengan erat tanpa menoleh sedikit pun padanya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada laporan Rain.“Bukti lebih dari cukup. Rekaman CCTV sangat jelas menunjukkan kejadiannya. Gendis juga udah foto bekas memar merah di tangan dan kaki Bima sebagai bukti tambahan,” sahut Rain dengan nada bicara yang sangat serius dan tanpa keraguan.Di seberang meja, Gendis tampak sangat tenang. Ia seolah tidak terganggu dengan pembicaraan suaminya yang sedang membahas kemungkinan memenjarakan ibu mertuanya sendiri. Dengan santai, Gendis terus menikmati sarapan paginya sembari sesekali menyuapi Bima, seakan-akan keberadaan ibu mertuanya yang sedang dikurung di kamar sebelah sudah tidak lagi memiliki ruang
“Yuni…” Gendis baru saja keluar dari kamar tidurnya sembari menggandeng tangan mungil Bima.“Iya, Bu…” sahut Yuni yang segera berlari kecil mendekati Gendis. Bima tertawa riang melihat kedatangan Yuni, seolah-olah ia baru saja melihat teman bermainnya sendiri.“Omanya masih ngomel?” tanya Gendis pelan saat mereka melangkah di lorong kamar.“Tadi masih, Bu. Cuma kata Pak Rain pintu nggak usah dibukain dulu,” bisik Yuni yang kemudian membalas senyum lebar Bima.“Iya, nggak usah dibukain. Biar kapok,” sahut Gendis tegas namun tenang. “Sarapan pagi udah siap?”“Udah semua, Bu, termasuk punya Oma Bima. Tadinya mau saya antarin ke kamar, tapi saya takut…” akui Yuni jujur. Sementara itu, Bima langsung berlarian menuju ruang tengah begitu mendengar suara dari siaran TV kesukaannya yang mulai diputar.“Ya udah, biar nanti suami aku aja yang urus. Kamu udah makan? Jangan nunggu disuruh, makan aja kalau lapar, ya,” ucap Gendis perhatian sembari melangkah menuju ruang makan.“Tenang, Bu… udah dua
“Kurang ajar! Nggak ada yang mau buka pintu ini?! Yuni! Yuni, buka pintunya! Kurang ajar kamu, pembantu sialan!” teriak Ibu Rain sambil menggedor pintu kamar Bima dengan brutal. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang asisten rumah tangga.Setelah lelah berteriak, ia kembali mencoba menghubungi Wanda. "Kalau sampai dia nggak menjawab juga, aku anggap dia sudah mati," geramnya ketus. Ia masih menyimpan dendam karena panggilannya semalam diabaikan begitu saja.Di tempat lain, suasana tampak jauh lebih tenang namun menyimpan kesan berbahaya.“Sayang... mama kamu telepon, nih...” ucap Cipta santai. Pagi itu, ia sedang sibuk menyiapkan sarapan di ruang makan. Handuk putih masih melilit pinggulnya, sementara sebuah earphone terpasang di salah satu telinganya.Di atas meja makan, sebuah walkie-talkie tergeletak dan terus mengeluarkan suara statis serta potongan percakapan beberapa anggota kepolisian. Saat ia bergerak, sebuah tato berinisi
Menjelang pagi, keheningan kamar utama pecah oleh suara tawa mungil Bima. Bocah itu sudah terbangun lebih dulu dan kini sibuk memanggil-manggil ayahnya.“Papa… bangun… Papa…” ucap Bima sembari menggoyang-goyangkan bahu Rain. Suaranya terdengar jernih, menunjukkan kemampuan berbicaranya yang fasih, jauh melampaui balita seusianya.Rain yang masih terlelap perlahan membuka mata, disambut oleh wajah ceria putranya yang menggemaskan. Belum sempat Rain menjawab, perhatian Bima tiba-tiba teralih.“Mama…!” seru Bima sambil tertawa girang. Ia melihat ke arah Gendis yang masih terlelap di sisi lain ranjang. Tanpa sengaja, pakaian tidur Gendis tersingkap sedikit karena posisi tidurnya yang miring, menampakkan sebagian dadanya. Dengan kepolosan khas balita, Bima tahu bahwa di sana tersedia stok ASI yang selalu siap untuknya.Melihat tingkah spontan putranya, Rain segera menarik selimut untuk merapikan pakaian istrinya, sembari tersenyum kecil menahan tawa melihat binar mata Bima yang mendadak pe
“Kamu istirahatlah dulu, Sayang. Bawa Bima ke kamar kita,” ucap Rain dengan nada rendah, jemarinya masih mengusap punggung Gendis dengan lembut, mencoba menyalurkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki.“Kamu mau ke mana?” tanya Gendis cemas. Ia menatap suaminya dengan mata sembap, seolah tak ingin ditinggal sendiri setelah badai yang baru saja mereka lalui.“Saya mau ke ruang monitor sebentar. Saya harus periksa rekaman CCTV mau lihat ke mana aja Mama pergi sebelum dia berhasil masuk ke kamar Bima,” sahut Rain. Sorot matanya kini berubah menjadi dingin dan tajam, sebuah tanda bahwa ia sedang dalam mode melindungi keluarganya dengan cara yang sangat serius.Rain kemudian bergerak hati-hati menggendong Bima yang masih terlelap, memastikan putranya tidak terusik. Dengan sebelah tangan lainnya, ia merangkul Gendis, membimbing istrinya menuju kamar utama. Setelah memastikan mereka aman di dalam, barulah ia akan mencari kebenaran di balik layar monitor—kebenaran yang mungkin akan membuatnya
“Aduh… gimana ini? Bisa-bisa aku kena marah Bapak sama ibu kalau beliau tahu aku yang kasih kode kunci kamar Bima,” bisik Yuni dengan suara gemetar. Ia berdiri mematung di lorong, wajahnya pucat pasi mendengar suara keributan yang meledak dari dalam kamar Bima. Jantungnya berdegup kencang, dihantam rasa bersalah karena telah membiarkan ibu Rain masuk dengan mudah. Yuni mulai melangkah mengendap-endap, tubuhnya menempel pada dinding saat ia berusaha mendekat ke arah sumber suara. Ia ingin memberikan penjelasan—atau mungkin pembelaan diri—tentang bagaimana ibu mertua majikannya itu bisa menyelinap masuk. Namun, setiap teriakan Rain yang terdengar dari dalam membuatnya nyaris kehilangan tenaga untuk sekadar berdiri tegak. Ia terjepit di antara rasa takut pada atasannya dan tekanan dari ibu Rain yang tak mungkin ia tolak sebelumnya. “Mama kayaknya nggak butuh psikolog, psikiater, atau apa pun itu. Langsung ke penjara aja, ya!” geram Rain dengan napas yang memburu penuh amarah. Tanga







