Sepertinya kamu akan sering pulang telat,” keluh Asyila dalam dekapan hangat Tara.Pria itu tak menjawab, dia sibuk memeluk, tangannya bergerak-gerak lembut mengusap punggung sang istri.“Mama bilang, aku harus mengerti keadaan ini.” Asyila menjeda, kentara sekali jika menghela napas berat. “Anak itu … butuh ayah yang perhatian, kata mama.” Asyila menyebut mama mertuanya dua kali, pertanda sebuah penekanan atau pemaksaan yang harus ditangkap oleh perasaan Tata.Gerakan pada punggung Asyila berhenti.“Kamu nggak harus mengerti, kamu hanya cukup menjalani, ini semua akan segera berakhir.” Tara mengecup kening Asyila sekilas, berharap mampu mengusir gundah yang tidak mudah.“Aku takut, Tara.”“Takut apa, Sayang?”Asyila diam, ragu melanjutkan kalimatnya.“Takut kamu akan benar-benar berubah. Aku takut kamu jatuh cinta sama wanita itu, apalagi … anak itu … pasti akan selalu mengingatkanmu padanya.”Tara mem
اقرأ المزيد