Udara di kamar Rani terasa hening, hanya berbau samar sabun bayi dan wangi bunga melati yang lembut. Tasya melangkah masuk tanpa suara, gerakannya pelan namun penuh niat buruk, matanya menyapu setiap sudut ruangan seolah sedang memburu jejak musuh. Ia tahu Rani sering ceroboh, sering lupa menyembunyikan barang-barang pribadi di tempat yang seharusnya aman. Dan hari ini, nasib benar-benar berpihak pada keburukannya—atau mungkin justru membuka pintu neraka yang selama ini tertutup rapat.Saat ia menunduk memeriksa keranjang sampah yang tersembunyi di balik lemari pakaian, tangannya tiba-tiba berhenti bergerak. Di antara tisu bekas dan kemasan permen, tergeletak sebuah benda plastik kecil yang bentuknya terlalu ia kenal.Dengan jari gemetar menahan rasa ingin tahu yang bercampur ketakutan, Tasya meraih benda itu. Ia mengangkatnya perlahan ke arah cahaya jendela.Detik itu juga, napasnya tercekat.Di sana, terlihat jelas dua garis merah yang tegas dan mencolok. Garis yang menandakan satu
Read more