Dengan napas yang tercekat, Samantha berusaha membesarkan kembali hati putri kecilnya itu. “Papa hanya sedang lelah, Sayang … banyak pekerjaan,” katanya. “Papa marah bukan karena Briel sakit. Jadi jangan bicara seperti itu lagi ya?” Jari Samantha terasa gemetar saat ia menyentuh pipi Gabriella dan mengusap air matanya. “Briel adalah kekuatannya Mama,” bisik Samantha. “Apa … Briel ingat kita pernah melihat pelangi setelah hujan?” Gabriella menganggukkan kepalanya, “Ingat, Ma ….” “Seperti adanya pelangi setelah hujan yang lama, kamu pun juga begitu. Kamu akan sembuh setelah sakit yang lama juga.” Samantha mengusap air mata di pipi tirusnya, merapikan topi beanie miliknya dan dengan senyum yang getir berujar, “Papa sudah pergi, jadi kamu tidak perlu takut lagi. Kamu tidurlah … besok adalah jadwal kemoterapinya Briel, jadi kondisi kamu harus baik.” “Iya, Ma ....” Samantha mengecup keningnya, merapikan selimutnya dan menemani gadis kecil itu hingga ia kembali terlelap. Saat akhirny
Last Updated : 2025-07-23 Read more