Erick menghela dalam napasnya, mengangguk membenarkan ucapan Eliza. “Apakah besok kamu mau datang untuk melihatnya?” tanya Eliza, jemarinya yang lentik masih berkeliaran di dada Erick sebelum menyelinap turun, menyentuh kulitnya yang basah oleh peluh. “Biar kamu tahu kalau apa yang aku katakan itu bukan sebuah kebohongan, Erick ….” Suaranya mendayu manja, merayu dengan manis. “Damien tadi juga ada di sana, dia bilang dia dapat undangan, dan datang dengan temannya yang seorang chef,” lanjut Eliza, merapatkan tubuhnya, bersinggungan dengan Erick. “Mungkin Damien kasihan pada Samantha, jadi mereka mencicipi makanan murahannya. Kalau bukan karena Damien … aku rasa tidak akan ada yang membeli di tempatnya.” Pria itu mendengus sebelum menjawab, “Aku akan datang besok. Aku ingin lihat seperti apa Samantha tanpaku. Kalau kemarin ramai karena ada bantuan Damien, mungkin besok dia akan menjadi peserta yang paling menyedihkan karena tidak akan ada yang membelinya.” Rahang tegasnya tampak men
Terakhir Diperbarui : 2025-08-13 Baca selengkapnya