*********“GAK MAU!” Suara Regita masih menggema di dapur. Yudetra bahkan belum sempat minum air, sudah harus menghadapi mode barbar istrinya di pagi hari. “Alasannya?” tanyanya santai, seolah yang barusan teriak bukan istri sahnya sendiri. “Gak ada alasan! Pokoknya gue gak mau bulan madu sama lo!” Regita berdiri dari kursi, menunjuk-nunjuk Yudetra. “Lo berangkat aja sendiri sana! Bawa koper, bawa bantal, sekalian bawa harga diri lo!” “Yang terakhir kayaknya kamu yang lebih butuh,” balas Yudetra datar. “Yudeeet!” Regita menghentakkan kaki. “Ini bukan bercanda! Gue serius!” “Saya juga serius.” Sunyi sepersekian detik. Tatapan mereka saling bertabrakan. Regita mendecak kesal, lalu mengambil tasnya dari meja. “Yaudah! Kalau lo maksa, gue juga bisa lebih maksa. Gue gak bakal ikut!” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan berjalan cepat keluar dari dapur. Satu jam kemudian, suasana rumah mendadak sepi. Terlalu sepi tanpa teriakan-teriakan seorang Regita. Yudetra berd
Read more