“Setiap kebenaran punya harga. Masalahnya, siapa yang dipaksa membayar?”Langit Jakarta sore itu tampak kusam, seperti diselimuti debu tak kasatmata. Dewi berdiri di balik kaca gedung tinggi, memandang kota yang terus bergerak—seakan tak peduli bahwa di balik denyutnya, ada perang sunyi yang baru saja memasuki fase paling berbahaya.“Nama itu muncul lagi,” ujar Rizal pelan, meletakkan tablet di meja. “Bukan di berita. Tapi di jalur transaksi.”Dewi menunduk, menelusuri data yang mengalir di layar. Polanya rapi. Terlalu rapi. Dana bergerak melalui tiga benua, berlapis yayasan, konsultan, dan proyek ‘pembangunan’. Skema lama, wajah baru.“Mereka tidak menyerang langsung,” kata Dewi. “Mereka membeli waktu. Dan orang.”Di sudut ruangan, Damar menyandarkan tubuhnya ke dinding. Matanya merah, bukan karena kurang tidur, tapi karena beban yang mulai terasa personal. “Satu negara kecil sudah goyah. Elite mereka ditawari bailout. Dengan syarat…” Ia menggantung kalimatnya.“…mereka keluar dari b
Last Updated : 2026-01-10 Read more