Hujan berhenti mendadak, seolah langit menahan napas. Di balai kecil yang lantainya retak-retak, warga duduk melingkar tanpa podium. Tak ada spanduk. Tak ada kamera. Yang ada hanya tumpukan kertas—data, peta, foto—dan wajah-wajah yang pernah terendam.Dewi berdiri di tengah lingkaran. Tidak berpidato. Ia membuka satu map tipis dan meletakkannya di lantai, lalu mundur setengah langkah.“Ini bukan pengadilan,” katanya pelan. “Ini kesaksian.”Intelijen Lingkungan—yang selama ini lebih sering diam—menggeser senter kecil, menerangi peta aliran sungai. Garis biru tampak terputus-putus seperti denyut yang gagal.“Air ini,” ujarnya, “berubah bukan karena hujan. Tapi karena izin.”Seorang ibu mengangkat tangan. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan marah yang lama dipendam. “Kalau izin dicabut,” katanya, “kenapa rumah saya tetap hanyut?”Tak ada jawaban cepat. Dewi menatap mata ibu itu. “Karena pencabutan tak mengembalikan akar,” jawabnya. “Dan tak menyentuh pena.”Nama pena bergema
Huling Na-update : 2025-12-28 Magbasa pa