Home / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 120 Jangan Menyerah ....

Share

Bab 120 Jangan Menyerah ....

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2026-01-13 06:44:17

Pagi berikutnya, Aria datang seperti biasa.

Wajahnya masih pucat, sisa dari ruang dokter. Tangannya dingin, tapi langkahnya tetap lurus—seolah rutinitas ini adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.

Saat Aditya duduk di seberang kaca pembatas, Aria langsung tahu.

Lebam itu tidak besar, tapi ungu gelap. Bukan hanya di tulang pipinya, tapi sudut bibirnya juga, sampai ada bekas robekan meski kecil di sana.

“Aditya, kamu …?”

Ya, dia tidak perlu melanjutkan pertanyaannya, karena jawabannya sudah cukup jelas. Dada Aria sesak, dan hatinya terasa sakit.

Namun di depannya, Aditya masih menunjukkan senyum meski itu jelas dipaksakan. “Aku tidak apa-apa,” katanya. “Aku tidak sengaja tersandung meja dan jatuh ke lantai.”

Dia menyentuh lukanya ringan, seolah benar-benar tidak ada apa-apa. “Kau lihat, ini hanya luka kecil. Tidak perlu kau pedulikan.”

Tapi, semakin Aditya mengatakan baik-baik saja, semakin hati Aria terasa perih. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi dia je
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 120 Jangan Menyerah ....

    Pagi berikutnya, Aria datang seperti biasa.Wajahnya masih pucat, sisa dari ruang dokter. Tangannya dingin, tapi langkahnya tetap lurus—seolah rutinitas ini adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.Saat Aditya duduk di seberang kaca pembatas, Aria langsung tahu.Lebam itu tidak besar, tapi ungu gelap. Bukan hanya di tulang pipinya, tapi sudut bibirnya juga, sampai ada bekas robekan meski kecil di sana.“Aditya, kamu …?”Ya, dia tidak perlu melanjutkan pertanyaannya, karena jawabannya sudah cukup jelas. Dada Aria sesak, dan hatinya terasa sakit.Namun di depannya, Aditya masih menunjukkan senyum meski itu jelas dipaksakan. “Aku tidak apa-apa,” katanya. “Aku tidak sengaja tersandung meja dan jatuh ke lantai.”Dia menyentuh lukanya ringan, seolah benar-benar tidak ada apa-apa. “Kau lihat, ini hanya luka kecil. Tidak perlu kau pedulikan.”Tapi, semakin Aditya mengatakan baik-baik saja, semakin hati Aria terasa perih. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi dia je

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 119 Tidak Butuh Perlindungan

    Keesokan paginya, Aria keluar dari kamar seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya tidur.Matanya cekung, kulitnya pucat, langkahnya pelan dan tidak sepenuhnya lurus—seperti tubuh yang bergerak hanya karena kebiasaan, bukan karena kemauan.Rambutnya dibiarkan terurai tanpa benar-benar dirapikan, dan sorot matanya kosong, seolah pikirannya tertinggal di tempat lain.Davis dan Norton sama-sama menoleh saat melihatnya.Tak satu pun dari mereka mengatakan apa pun.Tidak ada sapaan yang terlalu ceria. Tidak ada pertanyaan “kau baik-baik saja?”Mereka hanya berdiri di sana, menatap Aria sebentar lebih lama dari biasanya, lalu berpura-pura semuanya normal. Karena mereka tahu—jika satu saja dari mereka membuka mulut, Aria bisa runtuh di tempat.Meja sarapan telah disiapkan.Roti, buah, telur, dan secangkir susu hangat yang Davis letakkan perlahan di depan Aria, seolah benda itu rapuh.“Kau perlu ini,” katanya singkat. Bukan perintah, bukan juga bujukan.Aria hanya diam, tapi tangannya mer

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 118 Ia Tanggung Sendiri

    Jauh dari hotel itu ….Aria berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang temaram. Jaketnya terlalu tipis untuk udara malam, dan tangannya yang menggenggam ponsel terus bergetar … tapi tidak ia jawab.Di kepalanya hanya ada satu pikiran yang berulang, semakin keras setiap detik.Jika Aditya sudah menyerah, maka ia tidak boleh.Sebuah mobil melaju normal melewatinya.Aria tidak menoleh. Suara ban yang menyentuh aspal itu hanya lewat seperti banyak hal lain malam ini—tak penting, tak bermakna.Namun beberapa detik kemudian, suara mesin itu kembali terdengar, lebih pelan. Terlalu pelan untuk sekadar lewat.Mobil itu mundur perlahan, lalu berhenti tepat di depannya.Aria menghela napas kecil, nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya mendongak. Kaca jendela pengemudi turun, dan wajah yang muncul di baliknya membuat rahangnya mengeras.“Aria?”Nada itu—terkejut, nyaris tidak percaya.Alan.Untuk sesaat, hanya ada sunyi di antara mereka, dipotong sesekali oleh suara kendaraan jauh dan angin mala

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 117 Mempertaruhkan Segalanya

    Lorong rumah sakit itu berbau antiseptik dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Aria berjalan perlahan, langkahnya hampir tidak bersuara di atas lantai yang mengilap. Jam dinding berdetak pelan, terlalu jelas di antara keheningan yang menggantung.Nama Jordan Hale tertera di papan kecil di samping pintu.Ia berhenti di sana lebih lama dari yang perlu. Tangannya terangkat, lalu turun lagi, seolah mengetuk pintu itu bisa mengubah apa pun. Akhirnya, Aria mendorongnya perlahan.Ruangan itu terang, tapi terasa kosong.Jordan terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang tampak utuh. Selang infus terpasang rapi. Monitor di sampingnya berdetak stabil, ritmenya tenang, hampir menenangkan … jika bukan karena kenyataan bahwa itu satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa.Aria melangkah mendekat.Wajah Jordan pucat, jauh berbeda dari pria yang ia kenal lewat cerita Aditya—pemilik bar yang riuh, yang selalu tertawa keras, yang katanya tidak pernah bisa diam.Sekarang, ia sunyi. Terlalu sun

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 116 Tidak Membiarkannya Menyerah

    Ruang kunjungan itu tidak berubah.Kaca pemisah. Telepon hitam. Kursi besi yang dingin.Namun saat Aditya masuk dari sisi lain, langkahnya sedikit lebih cepat dari kemarin. Wajahnya langsung berubah begitu melihat Aria—senyum itu muncul terlalu cepat, terlalu rapi, seolah sudah ia latih sebelum pintu dibuka.“Hey,” katanya, suaranya terdengar lebih ringan dari seharusnya.Aria membalas senyum itu. Sama cepatnya. Sama terkontrol. Ia mengangkat gagang telepon dan duduk tegak, bahunya lurus, seolah tubuhnya tidak menyimpan apa pun selain ketenangan.“Kau kelihatan … lebih baik,” kata Aria.“Selama aku bisa melihatmu, aku akan selalu lebih baik.” Senyum Aditya semakin melebar.Ucapan itu menyengat hati Aria—tapi di depannya, ia tetap membalas senyum itu.Aria melihatnya, dan tahu kalimat itu tidak sepenuhnya benar.Ada bayangan lelah di bawah mata Aditya yang tidak ada kemarin. Ada kekakuan tipis di bahunya saat ia duduk, seperti seseorang yang tidurnya tidak pernah benar-benar dalam. Tap

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 115 Setakut Ini

    Pagi datang dengan cara yang tidak sopan.Cahaya matahari menembus celah tirai kamar hotel, jatuh tepat di mata Aria. Ia terbangun bukan karena cukup istirahat, melainkan karena tubuhnya menyerah untuk tetap terjaga.Kepalanya terasa berat, seperti diisi sesuatu yang tidak sepenuhnya mimpi dan tidak sepenuhnya nyata.Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring.Langit-langit kamar itu asing. Terlalu putih. Terlalu bersih. Dan kesadaran datang perlahan—menghantam satu per satu.Penjara.Aditya.Nama Jordan.Kata vegetatif.Perutnya bergejolak pelan.Aria duduk, menurunkan kakinya ke lantai. Gerakannya lambat, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya sepakat dengan keputusan untuk bangun. Saat ia berdiri, ada sensasi tidak nyaman yang tiba-tiba menjalar—ringan, tapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak dan memejamkan mata.Ia menarik napas dalam-dalam.Gelombang mual yang datang tanpa peringatan, lalu surut sebelum sempat benar-benar muncul.Aria menuju kamar mandi, menyalakan keran, membasuh w

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status