"Tuan Leonardi?" Bram memanggil sekali lagi karena Leonardi tampak melamun terlalu lama."Keluar, Bram. Aku ingin sendiri," perintah Leonardi tanpa berbalik.Begitu pintu tertutup, Leonardi jatuh terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding kaca yang dingin. Di bawah pengaruh sisa obat dan alkohol, halusinasinya mulai bekerja kembali. Ia melihat Aruna berdiri di depan mejanya, tersenyum padanya seperti dulu."Leo, kau bekerja terlalu keras lagi," bisik bayangan Aruna itu.Leonardi memejamkan mata erat-erat, mencoba menghalau bayangan itu, namun air mata akhirnya luruh di pipinya yang kaku. Pria yang paling ditakuti di dunia bisnis itu kini hanyalah seorang pria hancur yang merindukan wanita yang baru saja menikamnya dari belakang.Leonardi masih terduduk di lantai saat suara ketukan pintu kembali terdengar. Ia segera mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mengembalikan topeng kaku yang selama ini menjadi pelindungnya. Belum sempat ia memberi izin, pintu sudah terbuka per
Terakhir Diperbarui : 2025-10-13 Baca selengkapnya