Mendengar nama Leonardi, jantung Aruna berdenyut nyeri yang sangat tajam, seolah ada sebilah pisau yang diputar di dalam dadanya. Pria yang dulu ia panggil sebagai tempat pulangnya, pria yang pernah menjanjikan perlindungan, kini adalah orang yang membangun tembok penjara ini dan mengunci pintu selnya dengan kebencian."Biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan," bisik Aruna dengan nada getir yang sangat dalam. "Tugasmu sekarang hanya satu: tetap hidup dan jaga Ibu. Kakak masih punya kartu yang bisa dimainkan. Sekarang, pergilah. Jangan kembali ke sini lagi sampai Kakak sendiri yang memanggilmu. Tempat ini bukan untukmu."Sipir di belakang Aruna mengetuk kaca dengan tongkat kayu yang keras, mengeluarkan bunyi nyaring sebagai tanda bahwa waktu kunjungan telah berakhir. Aruna meletakkan gagang telepon yang kini terasa licin oleh keringat dingin. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca tebal, tepat di posisi tangan Renata berada di sisi lain. Ia memberikan senyum kecil, sebuah sen
Last Updated : 2025-10-19 Read more