"Tuan, lampu di paviliun timur sudah saya matikan, tapi sepertinya Anda lebih suka duduk di sini dalam kegelapan."Suara Bram terdengar sangat hati-hati saat ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan pribadi Leonardi. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya membiarkan cahaya dari lorong menyinari sedikit permukaan lantai kayu yang dipoles mengkilap. Di sudut ruangan, Leonardi duduk diam di kursi kulitnya yang besar. Pria itu tidak menoleh, matanya terpaku pada tempat di mana Aruna biasanya duduk saat mereka bekerja lembur bersama sebulan yang lalu."Kau tahu, Bram, terkadang aku masih mendengar suara langkah kakinya di koridor ini," ucap Leonardi dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri. "Setiap kali angin berembus melewati celah jendela, aku mencium aroma parfumnya yang lembut. Otakku seolah menolak untuk menerima bahwa dia sudah berpindah ke pelukan pria lain."Bram meletakkan nampan berisi air putih di atas meja, sengaja menjauhkan botol wiski yang
Terakhir Diperbarui : 2025-10-08 Baca selengkapnya