Lampu meja di ruang kerja Julian Vane memancarkan cahaya kuning yang hangat, menciptakan suasana yang tenang namun penuh konsentrasi. Di atas meja mahoni yang luas, tumpukan dokumen laporan pasar saham dan grafik fluktuasi ekonomi tersebar dengan rapi. Aruna duduk di sana, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik laptop, sementara matanya yang tajam memindai barisan angka yang rumit.Julian berdiri tidak jauh dari sana, bersandar pada rak buku sambil memegang segelas wiski. Ia tidak sedang memperhatikan laporan tersebut. Matanya tertuju sepenuhnya pada Aruna. Ada binar ketertarikan yang berbeda di matanya, bukan lagi sekadar nafsu untuk memiliki barang rampasan, melainkan kekaguman yang mulai berakar kuat."Kau jauh lebih berguna daripada Valerie, Aruna. Kau bukan hanya cantik, kau adalah otak yang selama ini aku cari," ucap Julian pelan. Suaranya terdengar tulus, tanpa ada nada mengejek seperti biasanya.Aruna berhenti mengetik sejenak namun tidak menoleh. Ia tetap mempertahankan
Huling Na-update : 2025-11-01 Magbasa pa