Malam itu, ruang makan di kediaman Vane terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen mahal yang memecah keheningan. Aruna duduk di hadapan Julian, mencoba menikmati hidangan laut yang disajikan pelayan, namun setiap suapannya terasa hambar. Pikirannya tertinggal di Obsidian Manor, bertanya-tanya apakah Bram sudah berhasil keluar dengan sampel darah itu.Julian meletakkan garpunya, lalu tiba-tiba meraih tangan Aruna yang berada di atas meja. Aruna tersentak kecil, namun ia tidak menarik tangannya."Kenapa tanganmu sedingin es, Aruna? Apa kau takut bertemu dengan mantan suamimu besok?" tanya Julian. Matanya yang tajam menatap Aruna, mencari celah di balik wajah tenang wanita itu.Aruna merasakan detak jantungnya meningkat, namun ia segera mengatur napas. Ia tahu Julian adalah pria yang sangat peka terhadap kebohongan. Jika ia menyangkal rasa takutnya, Julian justru akan curiga bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aruna menarik na
Last Updated : 2025-11-02 Read more