"Berhentilah menangis, Aruna. Suara isakmu hanya membuat ruangan ini terasa semakin sempit."Suara Leonardi terdengar datar, namun ada getaran aneh di baliknya saat ia memperhatikan Aruna yang masih berlutut di atas karpet bulu hitam. Aruna tidak menjawab. Isak tangisnya pecah saat kepalanya tertunduk rendah, berusaha keras meraih kancing kemejanya dengan gigi yang bergetar. Air matanya jatuh tanpa henti, membasahi kain katun kemeja putihnya, menciptakan bercak-bercak gelap yang kontras dengan warna kulitnya yang pucat.Ia merasa seperti puing-puing bangunan yang baru saja dihantam badai, hancur, kotor, dan tak berbentuk lagi. Setiap kali giginya menyentuh kancing plastiknya yang dingin, Aruna merasakan mual yang luar biasa. Ia adalah lulusan terbaik, seorang analis jenius, namun di sini, ia tak lebih dari sekadar tontonan untuk memuaskan ego seorang pria yang rusak.Melihat Aruna yang tersedu-sedu dengan tubuh yang berguncang hebat, kilat kejam di mata Leonardi mendadak meredup. Sesua
Last Updated : 2025-07-15 Read more