"Kau ingin aku menyelesaikannya, Aruna? Kau ingin aku memadamkan api yang baru saja kunyalakan di dalam dirimu?" suara Leonardi terdengar begitu tenang, hampir seperti bisikan angin malam yang dingin, kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam tubuh Aruna. Tepat saat tubuh Aruna gemetar di ambang puncak, saat syaraf-syarafnya berteriak menuntut pelepasan dan napasnya tersengal memohon penyelesaian dari rasa panas yang membakar rahimnya, Leonardi tiba-tiba menjauh.Sentuhan lidah dan bibirnya yang memabukkan menghilang seketika, meninggalkan sensasi dingin yang mendadak di atas kulit Aruna yang membara.Aruna membuka matanya yang sayu, berkaca-kaca, dan dipenuhi oleh kabut gairah yang belum tuntas. Ia menatap Leonardi dengan kebingungan yang nyata, seolah-olah ia baru saja ditarik paksa dari sebuah mimpi indah menuju realitas yang pahit.Tubuhnya masih melengkung secara insting di atas kursi kulit hitam itu, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya naik turun dengan
Last Updated : 2025-07-16 Read more