"Kau pikir kostum ini bisa menyembunyikan kehancuranmu, Aruna?"Suara bariton itu memotong keriuhan Distrik Komersial Viance yang padat. Aruna tersentak, tubuhnya yang terbungkus kostum badut berbulu tebal mendadak kaku. Di bawah terik matahari siang yang mencapai puncaknya, udara di dalam kostum itu terasa mencekik, panas, dan berbau apak. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, membakar matanya yang sudah perih, namun ia harus terus bergerak.Aruna menolak untuk memberikan jawaban. Di balik topeng kepala badut yang besar, lebar, dan selalu tersenyum konyol itu, ia sedang menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa besi darah mulai terasa. Ia hanya terus mengayunkan tangan berbulunya yang berat, membagikan brosur kedai kopi Pak Hasan kepada para pejalan kaki yang lewat tanpa peduli.Ini adalah strategi terakhirnya. Pagi hingga siang ia menjadi badut jalanan untuk mempromosikan toko-toko kecil, dan sore hingga malam ia kembali mencuci cangkir di kedai kopi. Ia butuh setiap keping E
Last Updated : 2025-07-12 Read more