Erlangga menunduk sebentar, menahan nafas yang memburu dan ia percaya pada lelaki itu. Ia tahu, tubuhnya akan butuh waktu lama untuk menetralisir obat itu. Efeknya bisa bertahan berjam-jam. Ereksi yang sulit hilang, tubuh terus bergelora, bahkan pikiran mulai kabur oleh hasrat yang dipaksa."Terima kasih, Mas Arbi,” ucapnya pelan."Bapak, segera masuk kamar saja. Jangan kembali ke meja itu. Mereka hanya menunggu momen untuk mempermalukan Anda."Dalam keadaan dikuasai hasrat, Erlangga menatap lelaki muda itu. "Besok temui saya, Mas." Erlangga mengambil dompet dan memberikan kartu namanya pada Arbi. Dan lelaki itu membantunya masuk ke kamar.Erlangga duduk di tepi pembaringan. Ia menggertakkan rahang. Ia sadar, semua ini bukan sekadar pertemuan bisnis biasa. Ini skenario jebakan, mungkin disusun oleh Pakdenya sendiri. Orang yang selama ini lihai memanfaatkan siapa saja demi ambisinya. Ia tidak boleh kalah, apalagi jatuh di hadapan lawan. Karena bagi Erlangga, tidak ada yang lebih berbah
Last Updated : 2025-08-19 Read more