"Apa sebaiknya kita jujur saja. Tara mungkin marah, tapi dia lebih tahu tentang kita daripada Cici," saran Erlangga."Apa aku harus cerita juga tentang papaku?""Tidak perlu. Cerita saja kalau kita kembali bersama."Keduanya terdiam sejenak. Vania mempertimbangkan saran suaminya. Kalau dia cerita, resikonya dimarahi Tara, dinasehati supaya dia sadar. Kenapa harus kembali pada pria yang sudah memberinya luka dan rasa malu. Tentu Tara tak habis pikir dengan keputusannya. Menganggapnya bodoh, diperbudak cinta, atau apalah omelannya nanti. Kecuali Tara tahu cerita yang sebenarnya."Kita ngajak Tara cerita di mana, Mas? Kakau di luar, banyak kenalan papaku. Nanti mereka mengenaliku.""Di mobil saja."Vania termangu, kemudian mengangguk. Mobil bergerak sesuai arahan Vania, karena Vania yang lebih paham sudut terminal itu.Mobil Erlangga berhenti tepat di depan bangku semen di sisi trotoar. Di atas bangku itu Tara duduk sambil mengetuk-ngetukkan kaki, tatapannya awas menyapu penjuru terminal
Last Updated : 2025-08-14 Read more