“Sebenarnya… awalnya saya ingin menerima perjodohan kita.”Kalimat itu meluncur begitu saja, tenang, nyaris tanpa penekanan—seolah Langit sedang membicarakan sesuatu yang ringan. Padahal, bagi Tanisha, kalimat itu seperti batu yang dijatuhkan tepat ke tengah danau tenang.Tanisha yang baru saja menutup pintu box bayi, langsung menoleh. “Apa?” sahutnya, refleks, dengan nada tak percaya.Aksara sudah terlelap. Napas kecilnya teratur, wajahnya damai, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang bergerak mundur ke masa lalu yang selama ini mereka kubur rapat-rapat.Langit masih berdiri. Ia bersandar pada meja rias Tanisha, kedua tangannya bertumpu santai, namun sorot matanya serius—jenis keseriusan yang jarang ia perlihatkan, kecuali saat ia benar-benar ingin jujur.“Iya,” ulangnya pelan. “Awalnya begitu.”Tanisha melangkah menjauh dari box bayi, mendekat ke arah ranjang. Ia duduk perlahan, seolah lututnya tiba-tiba kehilangan kekuatan.“Tapi…,” Langit melanjutkan, “kamu selalu terlihat ketaku
Last Updated : 2026-01-29 Read more