Keberadaan Langit di rumah itu perlahan berubah dari gangguan kecil menjadi sesuatu yang menggerogoti ketenangan Tanisha.Pagi hari, saat Tanisha baru saja bangun dan duduk di tepi ranjang kecilnya, Langit sudah ada di dapur. Jasnya rapi, dasinya belum terpasang, lengan kemeja digulung sebatas siku. Ia berdiri membelakangi Tanisha, menuang air panas ke gelas, seolah rumah itu memang tempatnya sejak awal.Tanisha menutup mata, menarik napas panjang. “Mas belum pergi?”Langit menoleh sebentar. “Sebentar lagi.”“Mas bilang gitu juga kemarin,” sahut Tanisha datar. “Dan kemarin lagi. Dan kemarin sebelumnya.”Langit tak menjawab. Ia hanya mengangkat gelasnya, meminum kopi pahit tanpa gula, lalu meraih jas yang tersampir di kursi.“Aku sudah bilang,” lanjut Tanisha, suaranya mulai meninggi. “Mas nggak seharusnya ada di sini. Ini bukan rumah Mas.”Langit mendekat, berdiri di ambang pintu kamar. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang terusir. “Kalau kamu mau tenang, kamu
Last Updated : 2025-12-30 Read more