Kedua wanita itu duduk berhadapan di taman kecil yang terletak tepat di depan infirmary. Deretan tanaman herbal tumbuh rapi di sepanjang jalur batu, menguar aroma khas yang menenangkan. Air mancur kecil di sudut taman mengalir pelan, menciptakan keheningan yang justru terasa canggung.“Clara,” panggil sang putri mahkota lebih dulu.“Um, iya, Yang Mulia,” jawab Clara, punggungnya menegang meski wajahnya tetap tertunduk sopan.Ana menatap lurus ke depan, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku melihat kau cukup dekat dengan Pengawal Inez,” ucapnya langsung, tanpa basa-basi.Clara terdiam sesaat sebelum menjawab. Ia bahkan menunduk tak berani menatap Ana. Masih ada perasaan bersalah terselip di dadanya karena dia telah berbuat dosa, percobaan pembunuhan anak putra mahkota.“Apa Inez sempat berpamitan sebelum pergi?” tanya Ana.Clara ragu sejenak sebelum menjawab. “Um… tidak, Yang Mulia.”“Tidak?” Ana menoleh, sorot matanya menajam.“Benar,” lanjut Clara pelan. “Saya justru baru menden
Terakhir Diperbarui : 2026-01-27 Baca selengkapnya