Evander berdiri, mendekat. Ke dua tangannya menekan meja di depan sang kakak. “Aku mencintainya,”Leon membisu. Tanpa sadar, salah satu tangannya mencengkram meja. Detik berikutnya, ia menghembuskan napas perlahan, seakan menata ulang pikirannya. Tatapannya beralih dari Evander ke arah jendela, lalu kembali lagi padanya. “Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?” tanyanya rendah.Evander tidak menjawab. Ia tetap berdiri di tempatnya, tatapannya tak bergeser. Napasnya naik turun. “Evander,” lanjut Leon, suaranya kini lebih tegas, “kau adalah seorang pangeran. Setiap pilihanmu tidak pernah berdiri sendiri.” Ia menegakkan tubuh, melepaskan genggaman tangannya dari meja. “Sementara Inez, seberani dan sejasa apa pun dia, tidak memiliki setetes pun darah bangsawan.”Evander mengatupkan rahang, tetapi Leon belum selesai.“Cinta tidak pernah menjadi satu-satunya pertimbangan bagi keluarga kerajaan,” kata Leon, nada suaranya menurun, nyaris seperti peringatan. “Ada dewan, ada rakyat, ada s
Last Updated : 2026-01-25 Read more