Ivan terdiam sebentar dengan helaan lirih. “Sebenarnya, aku dan adikku sudah menandai tempat ini milik kami, selamanya. Tapi, ya begitulah, tetap saja ada beberapa anak yang juga suka bermain. Apalagi dulu rumah pohon itu menjadi tempat favorit.”Ellena mendongak dan kembali menegang, dua tangannya pelan meremas karena menahan gejolak rasa yang dia sendiri belum bisa memahami. Banyak suara, banyak adegan yang melintas saat menatap rumah pohon di sana. “Sekarang rumah pohon itu sudah tidak bisa digunakan lagi, tapi sengaja tidak aku bongkar karena berharap … adikku akan kembali suatu saat. Dan aku yakin hal itu ….” Ivan menataplah kata-kata lekat wajah pucat adiknya. Ellena merangkup wajahnya.Lalu, Ivan mengeluarkan sebuah permen, tapi bukan Lollipop. “Makan ini agar perasaanmu tidak terlalu pahit.”Ellena pelan membuka rangkupannya dan menatap sebuah permen di atas telapak tangan Ivan.“Hm. Ambil untuk pemanis hidup. Kata adikku, kalau makan permen manis, maka sedihnya bisa cepat hi
Read More