LOGINSeseorang membawaku paksa masuk kamar hotel. Disaat itu pula, di tengah pesta, ada wanita yang mengaku istri sah suamiku. "Aku lelah disembunyikan. Sementara dunia malah memuja wanita lain sebagai istrimu ... kita bercerai saja!" Ellena melempar surat perceraian itu ke wajah Alan. Awalnya, pernikahan rahasia ini hanya alat untuk menutupi rumor bahwa CEO arogan itu penyuka sesama jenis. Ellena berasal dari keluarga hancur, dan rela jadi istri bayangan yang terus direndahkan publik. Namun, saat Ellena berniat pergi, Alan justru murka dan mengurungnya dengan posesif. Alih-alih melepaskan gadis itu, sang CEO yang mendominasi memilih melangkah ke hadapan sorot kamera media dunia. Dia menghancurkan semua spekulasi, membungkam mereka yang menghina, dan mendeklarasikan bahwa Ellena adalah satu-satunya istri sah yang tak boleh disentuh oleh siapa pun.
View More“Akh!” Suara wanita dalam gelap.
Wanita itu langsung melingkarkan tangannya pada leher sang CEO. Saat ini, sedang siaran langsung dari seorang CEO yang dirumorkan penyuka sesama jenis, tapi siaran ini bukan untuk klarifikasi masalah orientasi seksualnya. Lampu ruangan itu mati, tapi kamera profesional terus menyala dan sedang disimak seluruh penjuru negeri, bahkan tak sedikit dari luar negeri. Hanya sekian detik saja. Begitu kembali menyala, semua pasang mata tercengang. Seorang wanita cantik kini berada di atas pangkuan Alan dan memeluknya dengan degupan jantung cepat. Hanya dalam hitungan menit, grafik pemirsa di monitor menembus angka jutaan dan menempatkan siaran langsung itu di posisi pertama trending topic. “Pak, saya–” Dia mendorong dada pria itu ingin lepas, tapi gagal. “Diam. Aku tidak mau wajahmu diketahui publik.” Alan menekan bahu Ellena, memastikan wajah sekretarisnya itu tersembunyi. Sedang dia masih menatap kamera dengan wajah datar dan tenangnya. Sedang Ellena duduk tegang dengan wajah yang disembunyikan dalam ceruk leher atasannya. Dia pun tak tahu kenapa tiba-tiba ada dalam pangkuan Alan. ‘Siapa yang tadi mendorongku?’ batin Ellena. Dia mengingat saat kejadian tiba-tiba ruangan gelap. Ada yang mendorongnya hingga berakhir di atas pangkuan CEO-nya. Tak ada waktu memikirkan itu, yang harus dia pikirkan bagaimana caranya tidak ceroboh saat ini. Jangan sampai menuai masalah yang lebih besar lagi, kalau dia membuat kesalahan. ‘Akhh!’ pekik batinnya sambil menekan rahang. Wanita itu menahan nyeri hebat di kepalanya. Berharap jangan kambuh saat ini. ‘Kenapa aku sampai lupa minum obat?’ Lensa kamera masih menyala. Awalnya, siaran langsung itu digunakan untuk klarifikasi soal produk terbaru perusahaan yang mengalami masalah ketika sampai di tangan konsumen. Akan tetapi, sekarang malah menyiarkan adegan intim seorang CEO yang dirumorkan penyuka sesama jenis ini. Di sisi ruang, tim lain memantau pergerakan grafik pemirsa yang terus melonjak. Mereka tak berani memberi instruksi apa pun pada CEO mereka, meski adegan itu begitu kontroversi. “Pak Alan, posisi ini hanya akan memperburuk situasi.” Ellena kembali mencoba melepaskan diri dari dekapan Alan. Di luar dugaan. Alan malah mengubah posisi, memutar tubuh Ellena dan merebahkannya pada sofa panjang. Tubuh pria itu lantas condong, dengan lengan menutupi wajah Ellena. Dada Ellena tersentak kaget. Tangannya yang gemetar mencengkram sisi jas Alan, dan cepat memalingkan wajahnya dari lensa kamera. ‘Apa ini? Dia benar-benar gila!’ pekik batinnya. “Diam dan kita teruskan permainan ini!” bisik Alan tajam. Dahinya berkerut saat melihat wajah sekretarisnya yang sedikit pucat. Mata wanita itu melebar tegang. Sungguh dia tak sanggup menahan nyeri hebat di kepalanya lebih lama lagi. “Jangan seperti ini, Pak. Lepaskan. Saya tidak mau kalau—” “Siapa yang menyuruhmu? Sengaja melemparkan diri ke pangkuanku saat siaran langsung?” bisik Alan, sorot matanya tajam. Ellena menatap sorot mata tajam itu, hingga manik mata mereka saling beradu tatap sangat dalam. “Saya tidak paham dengan pertanyaan Anda. Tadi saya–” “MATIKAN!” Teriakkan seorang pria tua menggelegar di tengah ruang. Sorot mata sang Kakek itu begitu murka. Detik itu juga, siaran langsung dihentikan. Alan dan Ellena menoleh cepat. Masih dalam posisi itu, dan seketika ada besitan senyum miring tipis di satu ujung bibir Alan. Dalam pikirannya, sang kakeknya yang kejam atau salah satu keluarga Adhinata-lah yang berulah kali ini. “Ada komisaris, Pak.” Ellena ingin beranjak, tapi Alan malah menahan. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Di sana, sosok Kakek Alan sedang berdiri dengan wajah merah. Di sampingnya ada keluarga besar Adhinata yang tampak kaget dan menatap jijik. “Alan! Apa yang kamu lakukan di tengah siaran langsung?! Mau menghancurkan perusahaan ini?!” teriak sang Kakek dengan wajah merah padam. Sedang keluarga lain saling melempar sorot mata tajam, dengan guliran mata tajam pada Alan dan Ellena. Sepertinya mereka kaget, kenapa yang bersama Alan malah sekretaris itu. Alan tidak langsung bangkit. Dia menatap mata Ellena selama tiga detik dengan senyum miring. “Bukannya sudah jelas? Aku sedang sibuk bermain.” Lalu, pelan beranjak sambil merapikan jasnya. Alisnya terangkat saat menatap sang Kakek dan keluarganya, tak lupa disertai senyum miring tipis. Disusul Ellena. Dia cepat-cepat merapikan penampilannya dan berusaha berdiri tegap. Namun, wanita itu malah memegang kepala menahan nyeri, berdirinya pun tak bisa stabil. Sang Kakek malah langsung berbalik pergi. “Temui kakek bersama wanita itu!” Ellena mengatup matanya sebentar mengumpulkan sisa kekuatan, lalu sorot mata tajamnya memindai wajah-wajah karyawan yang ada di ruangan itu. Tak ada yang bergelagat aneh. 'Aku harus cari tahu siapa orang itu kalau mau mengembalikan nama baikku. Setelah ini, mereka pasti akan mengira aku murahan,' batinnya. Sedang Alan membuang napas, lalu tatapan tajamnya jatuh pada Eric, asistennya yang baru saja datang dengan napas memburu dan wajah panik. "Maaf, Pak." Eric langsung merapat. Dia membisikkan sesuatu, "Tadi saya sedang mengamankan seorang gay yang akan digunakan mereka saat siaran langsung. Tapi saya benar-benar tidak tahu kalau mereka malah menyerang pakai cara lain." Tanpa menjawab, Alan berbalik dan menyambar tangan Ellena, membawa ke ruangannya. Kini, Ellena berdiri di depan pria berwajah dingin tanpa ekspresi itu. “Hey!” Alan memegang bahu Ellena yang hampir roboh. Matanya tajam menelisik wajah pucat dan keringat di dahi wanita itu. “Saya tidak apa-apa, Pak.” Dia berusaha bertahan, tangannya terkepal kuat di bawah. Pria itu menangkap ada yang aneh dengan sekretarisnya, tapi bukan urusannya. Lalu, Alan menarik napas dalam-dalam. “Menikahlah denganku. Kamu sudah lihat kekacauan itu, kan?” Ha? Ellena menatap tegang wajah pria itu. Dia hanya ingin bahagia di sisa umurnya, tidak ada pikiran ingin menikah. “Me … nikah, Pak?”Ellena hanya menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh. Alih-alih mereda, ekspresi wajahnya justru terlihat semakin garang. Mungkin ada 10 tanduk yang keluar. Alan mulai panik. Dia melangkah mendekat, mencoba merayu dengan jurus lain. “Atau kamu bosan di rumah? Bagaimana kalau besok kita berangkat liburan? Kamu boleh pilih mau keliling Eropa dua bulan, atau mau kubelikan pulau pribadi di biar kita bisa berdua saja tanpa gangguan si sialan Ivan? Katakan saja, semua asetku bebas kamu pakai.” Bukannya senang, Ellena malah mendengkus ketus. Dia merogoh saku dress rumah yang dipakainya, lalu menyodorkan sebuah amplop putih berukuran sedang tepat di depan dada Alan. “Lihat sendiri! Aku tidak menyangka, ternyata sekarang sudah ada orang ketiga di antara hubungan kita!” Mendengar kata 'orang ketiga', wajah Alan seketika memucat. Jantungnya serasa berhenti berdetak dan rasa takut setengah mati langsung menyerangnya. Dia menerima amplop itu dengan tangan mendadak dingin
Alan mengangkat tangan, lalu dengan lembut mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi Ellena menggunakan ibu jarinya. “Aku tidak apa-apa, Sayang.”Kakek Adhinata perlahan bangkit berdiri. Beliau menatap cucunya. “Alan, Kakek cuma punya satu jantung dan itu pun sudah sekarat. Jangan buat orang khawatir setengah mati lagi.”Alan menoleh pada kakeknya, lalu menundukkan kepalanya sedikit. “Maaf, Kek. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”Ivan melangkah mendekat dengan tatapan sangat tajam dan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat, dan melayang cepat ke arah wajah Alan, tapi kepalan itu berhenti mendadak dan hanya meninju udara kosong tepat beberapa sentimeter di depan wajah Alan. “Sudah kubilang, jangan pernah buat adikku menangis lagi.”Alan tidak menghindar, dia justru menyunggingkan senyum tipis menatap kakak iparnya itu. “Tidak akan lagi, Ivan.”Pria itu kemudian kembali menatap Ellena, lalu menunduk untuk mengecup kening dan kedua pipi istrinya secara bergantian, mengaba
Ellena berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit, Ivan berusaha mengimbangi dari belakang. Begitu tiba di depan ruang penanganan darurat, langkahnya melambat secara drastis.Di sana, Kakek Adhinata duduk termangu di kursi tunggu. Kedua tangannya yang bergetar mencengkeram erat kepala tongkat kayu miliknya, sementara matanya yang berkaca-kaca menatap kosong ke lantai. Tidak jauh dari sana, Eric bersandar pasrah pada dinding. Penampilannya sangat berantakan, jas kerjanya sudah hilang, dan kemeja putihnya dipenuhi noda darah merah yang mengering.Ellena langsung menghambur maju, berlutut di depan kursi Kakek Adhinata. “Kakek ... di mana Alan? Bagaimana kondisi Alan, Kek?” tanyanya dengan suara bergetar hebat di sela isak tangisnya yang deras.Kakek Adhinata tidak menjawab. Beliau hanya diam, lalu perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa sanggup menatap menantunya.Melihat respons itu, Ellena bangkit berdiri dan beralih mencengkeram kuat kedua bahu Eric, mengguncangnya denga
Keesokan harinya.“Jangan bangunkan Nyonya!”Semua pembantu mengangguk. Alan lantas berangkat perang dengan senyum lebar.Ehm, berangkat kerja ….Bagaimana tidak bahagia. Semalam dia berhasil memiliki istrinya seutuhnya.Bahkan full charger sampai berkali-kali ronde.Kini, di kursi belakang, Alan duduk dengan setelan jas kerjanya. Di depan, Eric fokus mengendalikan kemudi.Alan sudah harus meninggalkan mansion untuk menyelesaikan rentetan urusan bisnis.Satu hari ini pontang panting tanpa ampun. Tapi Alan tetap tegap semangat.Hingga sore harinya.Dia baru saja menyelesaikan pertemuan berturut-turut di sebuah restoran mewah, lalu berlanjut rapat di hotel dengan investor asing, dan langsung menyambung pertemuan darurat di dua kantor perusahaan cabang miliknya. Yang fatal, karena saking senangnya semalam dengan Ellena, dia lupa sarapan dan makan siang. Hanya minum kopi saja dan makan ringan saat meeting.Ditambah aktivitasnya yang padat selama ini, dan yang pasti istirahatnya sangat
“Baik. Kita buat jalan damai demi Ellena,” ucap Ivan dengan nada ketus. Dada Alan naik turun dan menanyakan tajam dengan wajah garangnya. “Katakanlah!” “Ellena akan tetap berada di rumah sakit ini dan diawasi oleh kedua belah pihak. Semua urusan pengobatan, tim dokter, dan tindakan medis apa pun
“Aku tahu kamu yang menyelamatkannya dari lokasi kecelakaan itu, Ivan. Aku bisa berterima kasih untuk bagian itu. Tapi bukan berarti kamu berhak menculiknya seperti ini, memalsukan identitas medisnya, dan menyembunyikannya dariku yang statusnya adalah suami sahnya!”Suara Alan kali ini dibuat lirih
Kelopak mata Alan langsung terbuka lebar. Dia menegakkan kepalanya seketika, menatap tajam anak buah yang baru saja melapor. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi sorot matanya yang memerah pekat membuat atmosfer ruangan mendadak mencekam.Eric yang menangkap isyarat mata bosnya langsung menyahut, “B
Hingga terdorong hebat, dan berputar dua kali di atas aspal, dan akhirnya menghantam pembatas jalan dengan keras.BRAKKK CIIIITTT ….Kaca mobil pecah, nggak punya bertebaran. Mobil ringsek sampai salah satu pintu mobil terlempar.Asap mengepul dari depan mobil. Dan ada percikan-percikan api di sek












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore