“Setelah kejadian itu, Januar tidak pernah menghubungiku, tidak bertanya bagaimana kondisiku, dan lainnya. Terlalu aneh dan aku harus memastikannya dulu sebelum bertindak lebih jauh.”Setelah mengantre cukup lama, akhirnya giliran Ellena tiba. Dia sengaja memilih urutan terakhir agar tidak ada pasien lain yang mengganggu pembicaraan mereka. Ellena mendorong pintu ruang periksa.“Dokter Januar, maaf aku baru sempat datang,” ucap Ellena pelan sambil melepas maskernya.Januar seketika mendongak. Pena di tangannya berhenti bergerak. Ada sorot mata kaget, otot rahangnya tampak menegang sesaat, lalu dia memaksakan sebuah senyum.“El–Ellena? Wah, kamu ... silakan duduk.” Januar sedikit gagap. Dia segera berdiri. “Sudah lama sekali kamu tidak datang. Apa kabar?”Ellena duduk dengan bahu yang sengaja dijatuhkan, menatap Januar dengan sorot mata yang dibuat sayu, seolah dia masih wanita lemah yang bodoh.“Kabarku begini-begini saja. Maaf ya, belakangan ini Alan melarangku keluar. Apalagi setel
อ่านเพิ่มเติม