“Perusahaan sudah menertipkan wartawan di gedung samping. Kita akan masuk konferensi pers.”Ellena tak menjawab, dia meremas tautan tangannya. Kali ini harus melawan ego, dia harus pakai akal sekat dan bijak, jangan sampai ceroboh atau bodoh saat di dalam. Meski jengkel, meski geregetan, itu urusan nanti dengan Alan di rumah.Lalu, Alan keluar lebih dulu, setelah itu membukakan pintu di sisi Ellena. Dia berdiri tegak, lalu mengulurkan tangannya. “Ayo turun, Nyonya Adhinata. Saatnya mereka tahu kalau kita pasangan sehidup semati,” ucapnya yang hanya bisa didengar oleh Ellena.Ellena menatap telapak tangan itu sejenak, lalu meletakkan jemarinya di sana. Wajahnya masih ditekuk cemberut, menahan dongkol yang belum hilang sepenuhnya. Ellena belum mau keluar, lalu Alan membungkukkan tubuhnya sedikit, memajukan wajahnya hingga hanya tersisa jarak beberapa senti dari telinga Ellena.“Istriku sangat cantik, dan senyumannya sangat manis juga indah. Sebenarnya aku nggak rela mengumbar kecantika
Read more