Hening, bukan sunyi tapi mencekam.Langit sore menggantung abu pucat di atas pemakaman. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah basah dan bunga yang mulai layu.Angelina berdiri lama di depan dua nisan. Namanya terukir rapi. Samuel Nathaniel Vancroft dan Leonard William Vancroft. Jaraknya terlalu dekat, seperti hidup mereka yang direnggut hampir bersamaan.“Mama lelah,” bisik Angelina, suaranya lirih teredam oleh duka yang mendalam. “Kalian tahu itu.”Tidak ada jawaban. Hanya dedaunan yang saling bergesek.“Papa kalian,” lanjutnya lirih, “sekarang selalu sibuk. Dia masih memiliki anak dan cucu. Sedangkan mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Mama kesepian.”Tangannya mengepal. Bahunya bergetar.“Mama sendirian di rumah sebesar itu,” katanya lagi. “Dan tidak ada yang peduli.”Air mata jatuh. Satu. Lalu banyak. Angelina menutup wajahnya. Tangisnya pecah tanpa sisa. Tangis seorang ibu yang kehilangan segalanya dan merasa ditinggalkan.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di bahu
Magbasa pa