Malam itu, topeng ketenangan yang selama ini menjadi ciri khas Alex retak sepenuhnya.“Pelan-pelan, Sayang,” bisiknya, namun langkah kakinya sendiri justru lebar dan tergesa, hingga membuat Naira sampai menyeret langkahnya.Naira mencengkeram lengan kemeja Alex saat mereka melangkah masuk ke dalam lift. Begitu pintu tertutup, keheningan logam itu justru mempertegas suasana.Di cermin lift yang dingin, Naira melihat pantulan wajah suaminya, rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang.“Masih sakit?” tanya Alex. Kalimat itu meluncur cepat, diburu kecemasan yang nyata.Naira menggeleng pelan, mencoba mengatur napas.“Sudah hilang.” Naira tidak bohong, saat ini kontraksi itu benar-benar hilang, tapi dia merasakan kontraksi itu mulai sering datang.“Kamu yakin?” Alex menatapnya lekat, mencari kebohongan di mata istrinya.“Iya, sungguh.” Naira tidak ingin Alex semakin panik.Seolah tidak mendengar, Alex menekan tombol lantai dasar berkali-kali. Ketukan jarinya pada tombol logam itu m
Read more