Pintu ruang perawatan itu berderit pelan, membelah sunyi yang sejak tadi mencekik Regina.Regina menoleh. Cahaya pagi yang pucat masih menggantung di pelupuk matanya, membuat sosok yang muncul di ambang pintu tampak seperti siluet buram. Namun, aroma parfum maskulin yang familiar itu mendahului segalanya. Alex.Refleks, tubuh Regina menegang di balik selimut rumah sakit yang kasar. Jantungnya berdentum bukan karena terkejut, melainkan karena melihat siapa yang berdiri tepat di samping pria itu, Naira. Mereka berdiri bersisian, begitu tenang, begitu serasi, seolah-olah semesta memang menciptakan ruang khusus untuk mereka berdua.Regina menarik napas panjang yang terasa mengiris paru-parunya. Ia memaksakan sebuah senyum, meski rasanya sepahit empedu di ujung lidah."Hai," sapa Regina, suaranya parau dan kaku. "Kalian datang."Alex tidak membalas. Rahangnya mengeras, tatapannya sedingin es kutub. Ia berdiri tegak, menciptakan dinding tak kasat mata yang menegaskan bahwa kehadirannya di s
Read more