Sonya hanya tersenyum tapi nggak bicara, tetapi hal-hal kecil yang harus ia lakukan, tetap ia lakukan semua.Di sampingnya, Lisa justru semakin berisik, “Kak Indra, lihat deh betapa baiknya Kak Sonya ke kamu. Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi dia masih tetap ingat makanan favoritmu. Kalau nggak salah ingat, makanan yang itu makanan favorit Kak Sonya. Masa kamu nggak kasih dia balik?”Sambil bicara, ia tunjuk salah satu hidangan, seenaknya kasih instruksi.Indra melirik ke arah adiknya, tatapannya dingin. Ia memang nggak bicara apa pun, tapi makna di balik tatapan itu sangat jelas, diam.Sonya lihat reaksi itu, bayangan redup melintas di matanya. Namun wajahnya tetap hangat dan lembut.“Aku bisa ambil sendiri kok, nggak perlu ngerepotin kakakmu,” ujarnya halus.Lisa langsung menyela, “Kak Sonya, kamu tuh terlalu baik. Kamu harusnya perintah dia sesekali. Dulu aku lihat dia rajin banget urusin kamu. Kalau kamu nggak biarkan dia urusin kamu, dia malah ngambek. Laki-laki itu kalau dimanja
Read more